Jakarta, CNN Indonesia --
Menjaga jarak aman antarkendaraan krusial dilakukan agar terhindar dari akibat kecelakaan beruntun, terutama dalam perjalanan panjang beriringan seperti mudik Lebaran. Seberapa jauh semestinya jarak antara pengemudi dengan kendaraan di depannya dan gimana langkah menghitungnya?
Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana menjelaskan langkah mengukur jarak kondusif pada mobil terdiri atas dua metode, pertama merupakan pengukuran berasas meter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah, jika kita merujuk kepada langkah mengukur jarak itu ada dua. nan pertama berasas meter. Meter itu bisa kita mengambil jarak nan ada di jalan tol biasanya ada tiang listrik," ujarnya dalam wawancara dengan CNNIndonesia.com, Kamis (12/3).
Cara pengukuran berasas tiang listrik kudu menyesuaikan kecepatan mobil. Apabila mobil melangkah dalam kecepatan 90 km/jam, jarak antara kendaraan di depan diukur 3 tiang listrik misalnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah, jarak tiang listrik ke tiang listrik berikutnya itu biasanya ada 25 alias 30 meter. Nah, berfaedah kita sesuaikan kecepatannya. Kalau kecepatan kita misalnya 90 (km/jam), berfaedah kita ngatur jarak mobil kita dengan mobil di depannya 3 tiang listrik," kata Sony.
Namun, tidak semua jalan mempunyai tiang listrik sebagai patokan menentukan jarak kondusif sehingga metode kedua menjadi mungkin digunakan.
"Nah, metode nan kedua adalah metode nan dibuat oleh Smith System, ialah berasas detik. Nah, detik ini juga bermacam-macam, ada nan 3, ada nan 4 detik. Nah, saya menganut 4 detik," ujarnya.
Maksudnya, pengemudi menghitung jarak kondusif terhadap kendaraan di depan dalam referensi waktu 4 detik dalam kondisi mobil melangkah beriringan.
"Jadi mobil nan ada di depan saya dengan mobil saya jarak depannya itu jaraknya 4 detik," tuturnya.
Alasannya, waktu 4 detik merupakan lama minimum pengemudi secara optimal memproses perubahan dan gangguan di jalan.
"Kenapa 4 detik? Pertimbangannya adalah ketika manusia bereaksi, berpikir bahwa kudu melakukan antisipasi di depan ada bahaya, itu butuh waktu dan kesadaran 1 detik. Kemudian, dia mengantisipasi menginjak rem, itu butuh waktu 1 detik. Kemudian, kondisi jalan, kelembaban, dan sebagainya itu butuh waktu 1 detik, sudah 3 detik. (Setelahnya) ditambah lagi waktu 1 detik ialah safety factor," jelas Sony.
Cara menghitung jarak menggunakan metode kedua ini sebenarnya terbilang sederhana. Pengemudi dapat menentukan satu barang tetap sejajar dengan mobil di depannya sebagai patokan.
"Ketika kita melangkah beriringan dengan mobil di depannya, kita lihat mobil di depannya. Mobil di depan kita itu sejajar dengan satu barang tetap nan ada di pinggir jalan, misal, bisa tiang listrik, bisa tiang rambu, dan sebagainya," ujarnya.
Hitungan dimulai saat mobil di depan sejajar patokan. Apabila pengemudi sampai pada barang tetap itu dalam hitungan ke-4, jarak dikatakan aman.
"Ketika dia sudah sejajar dengan tiang rambu itu, kita mulai berhitung, dia 1001, 1002, 1003, 1004, kita ada di tiang rambu tadi. Nah, jika rupanya kita hitung 1002 berfaedah kedeketan. Kalau kita hitung 1004, 1005 baru nyampe situ, kejauhan, itu lebih aman, lebih bagus. Tetapi jangan sampai 1002 kita udah nyampe tiang itu," tuturnya.
Menurut Sony, metode kedua condong lebih elastis daripada pengukuran berasas meter.
"Kalau nan jarak tadi berasas detik kan lebih fleksibel. Artinya elastis gimana? Kalau kecepatannya rendah dia semakin dekat. Kalau kecepatannya tinggi dia semakin jauh jaraknya," ujarnya.
Meski begitu, metode kedua belum marak digunakan. Alasannya, ada banyak pengemudi memang belum teredukasi secara defensive driving.
"Cuma dua metode itu aja, cuman memang nan metode kedua itu berasas detik ini belum banyak diaplikasi(kan), baik ke si pengemudi pada umumnya ya, lantaran mereka kan tidak teredukasi secara defensive driving," tuturnya.
Sony mengatakan pengenalan metode ini diharapkan meningkatkan kesadaran pengemudi menjaga jarak kondusif berkendara.
"Kalau ini diedukasi, jika ini di-publish, harusnya mereka lebih sadar untuk menjaga jarak lebih jauh gitu," tutupnya.
(iqb/fea)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·