Brawijaya Hospital | CNN Indonesia
Jumat, 17 Apr 2026 13:07 WIB
Ilustrasi. (Foto: Istockphoto/Moyo Studio)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kerap tak dianggap serius sampai muncul keluhan, tangan adalah organ vital dalam menunjang produktivitas harian. Keluhan pada tangan umumnya saat terjadi kesemutan alias nyeri, nan sebenarnya bisa jadi tanda Carpal Tunnel Syndrome (CTS). Kondisi ini merupakan salah satu gangguan saraf nan paling umum ditemukan, terutama pada perseorangan dengan aktivitas tangan nan repetitif.
dr. Wienorman Gunawan, Sp.BS, FNF, FINPS dari Brawijaya Hospital menjelaskan, kondisi ini dipicu oleh tekanan pada saraf median di pergelangan tangan. Jika dibiarkan tanpa penanganan medis nan tepat, CTS berisiko menurunkan kualitas hidup secara signifikan.
Ia menjelaskan, secara anatomi, terdapat lorong sempit di pergelangan tangan nan disebut terowongan karpal, tempat saraf median berada. Menurut dr. Wienorman, kondisi terjepitnya saraf tersebut menjadi pangkal masalah utama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Carpal Tunnel Syndrome terjadi ketika saraf median terjepit di dalam terowongan sempit di pergelangan tangan (carpal tunnel). Tekanan ini menyebabkan gangguan pada kegunaan saraf nan berkedudukan dalam sensasi dan pergerakan tangan," kata dr. Wienorman.
Hingga saat ini, CTS tercatat sebagai jenis neuropati kompresi nan paling sering terjadi di dunia. Gangguan ini biasanya tidak muncul secara mendadak, melainkan berkembang secara bertahap. Beberapa indikasi awal nan sering dilaporkan pasien meliputi:
Kesemutan alias meninggal rasa pada jari (terutama ibu jari, telunjuk, dan tengah).
Nyeri pada pergelangan tangan nan menjalar hingga ke lengan.
Kelemahan pada tangan saat menggenggam benda.
Keluhan nan sering kali memuncak pada malam hari.
dr. Wienorman mengingatkan agar pasien tidak menunda pemeriksaan jika indikasi mulai terasa lebih sering dan menetap.
"Pada kondisi lanjut, pasien dapat mengalami penurunan kegunaan tangan nan signifikan," tambahnya.
Penyebab dan Faktor Risiko
Gaya hidup modern dan pola kerja menjadi aspek akibat utama CTS. Aktivitas berulang seperti mengetik dalam lama lama, penggunaan gadget nan intens, hingga pekerjaan manual nan berat menjadi pemicu utama.
Selain aspek pekerjaan, CTS juga lebih sering ditemukan pada wanita usia 40-60 tahun, perseorangan dengan obesitas, kondisi kehamilan, serta penyandang glukosuria alias gangguan tiroid.
Gangguan ini bukan sekadar rasa tidak nyaman, tetapi mempunyai akibat nyata pada keseharian. Pasien bakal sering kali mengeluh susah mengetik, kesulitan menggenggam barang kecil, hingga gangguan tidur akibat rasa nyeri nan muncul di malam hari.
Sejalan perkembangan pengetahuan kedokteran, sekarang CTS dapat ditangani melalui beragam metode, berjuntai pada tingkat keparahannya. Penanganan dimulai dari pendekatan konservatif hingga tindakan medis lebih lanjut.
Beberapa langkah penanganan itu meliputi:
Modifikasi Aktivitas: Mengistirahatkan tangan dan menyesuaikan pola kerja.
Penggunaan Wrist Splint: Menjaga posisi pergelangan tangan tetap stabil.
Terapi Obat: Penggunaan antiinflamasi alias suntikan steroid untuk mengurangi peradangan.
Fisioterapi: Untuk mengembalikan kegunaan otot dan saraf.
Carpal Tunnel Release: Tindakan operasi bagi pasien nan memerlukan penanganan permanen alias jika metode non-operasi tidak memberikan hasil.
Deteksi awal ditegaskan sebagai kunci utama dalam menghadapi CTS. Dr. Wienorman meminta agar rasa kesemutan alias nyeri pada tangan tidak dianggap sebagai kelelahan biasa. Melalui penanganan nan sigap dan tepat, kegunaan tangan dapat terjaga, sehingga produktivitas dan kualitas hidup tetap optimal.
"Penanganan nan tepat dapat membantu mengurangi indikasi dan meningkatkan kegunaan tangan secara signifikan," pungkas dr. Wienorman.
(rea/rir)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·