slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Cerita Para 'dukun Modern' Dan Bisikan Sunyi Dari Kartu Tarot

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Tiara Sutari | CNN Indonesia

Jumat, 01 Mei 2026 19:30 WIB

Para pembaca tarot menjadi 'dukun' modern, bukan meramal nasib, melainkan membantu orang memahami diri di tengah hidup nan tak pasti. Ilustrasi. Para dukun modern nan menggunakan medium tarot. (REUTERS/Shamil Zhumatov)

Jakarta, CNN Indonesia --

Di sebuah kafe mini di perspektif kota Jakarta, tak ada aroma kemenyan alias bunyi mantra nan menggema. Hanya denting sendok nan beradu dengan gelas kopi, percakapan pelan, dan setumpuk kartu bergambar simbol-simbol nan tampak seperti potongan cerita kuno.

Di meja itu, Jemima duduk santai. Ia mengocok kartu tarot seperti seseorang nan sedang memainkan permainan biasa. Namun bagi orang nan duduk di hadapannya, momen itu terasa lebih dari sekadar permainan. Ada angan nan diselipkan diam-diam untuk menemukan jawaban.

"Menurut saya, hidup sekarang penuh ketidakpastian. Banyak orang bingung, dan mereka butuh sesuatu buat memvalidasi kebingungan itu," ujar Jemima (30), tarot reader asal Bekasi saat berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia tertawa mini ketika menyebut dirinya bagian dari 'dukun modern'. Tidak ada jubah panjang alias ritual rumit. Hanya kartu, percakapan, dan kepekaan membaca situasi.

Bagi Jemima, tarot bukan perangkat untuk meramal masa depan. Ia justru menolak dugaan itu.

"Tarot bukan ramalan ya. Ini lebih kayak medium buat introspeksi. Orang-orang sebenarnya sudah punya jawabannya, hanya butuh dipancing saja," katanya.

Semua bermulai dari iseng. Dari sesi-sesi santuy berbareng teman, dari obrolan panjang nan kadang berujung pada pertanyaan-pertanyaan besar tentang hidup.

Ia pun mengaku belum sepenuhnya menekuni tarot secara profesional. Namun, justru di situlah letak kejujurannya, tarot baginya bukan pekerjaan utama, melainkan ruang bermain nan perlahan berubah menjadi ruang memahami.

Ia menyadari, membaca kartu untuk diri sendiri terasa jauh lebih mudah.

"Kalau untuk diri sendiri, kita sudah tahu isi kepala kita. Tapi jika untuk orang lain, apalagi nan belum dekat, kudu ngobrol dulu. Digali dulu keresahannya," ujarnya.

Tarot, dalam praktiknya, bukan sekadar menarik kartu dan membaca makna simbol. Ia adalah percakapan nan perlahan membuka lapisan-lapisan emosi manusia.

Di Wonogiri, pengalaman serupa dirasakan Elise (34) nan sudah menekuni pembacaan tarot sejak beberapa tahun belakangan. Ia menyaksikan sendiri gimana tarot perlahan berubah dari praktik nan dulu dianggap pinggiran menjadi sesuatu nan dicari banyak orang.

"Orang sekarang butuh pegangan. Ketika semuanya terasa tidak pasti, apalagi petunjuk mini pun bisa bikin tenang," katanya.

Namun ketenangan itu tidak datang dari jawaban pasti, melainkan dari proses memahami.

Elise sendiri membatasi dirinya hanya menerima maksimal dua sesi dalam sehari. Bukan tanpa alasan. Baginya, setiap sesi memerlukan energi, empati, dan konsentrasi nan tak sedikit.

"Ini bukan soal cepat-cepatan. Setiap orang datang dengan ceritanya masing-masing," ujarnya.

Add as a preferred
source on Google

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru