CNN Indonesia
Sabtu, 02 Mei 2026 20:50 WIB
Ilustrasi tidur siang. (iStockphoto/fizkes)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di bawah sinar mentari musim semi nan hangat pada Sabtu (2/5), ratusan pemuda Seoul di Korea Selatan, memadati taman di tepi Sungai Han.
Mereka berkumpul bukan untuk berolahraga, melainkan untuk melakukan perihal nan jarang didapatkan penduduk Korea Selatan nan gila kerja: Tidur.
Pemerintah Metropolitan Seoul menggelar aktivitas tahunan ketiga berjudul "Lomba Tidur Siang" (Power Nap Contest). Syaratnya pun unik: peserta diminta mengenakan kostum ala "Putri Tidur" alias pangeran, datang dalam kondisi lelah, dan perut dalam keadaan kenyang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi kota metropolitan nan dikenal dengan pusat perbelanjaan 24 jam, budaya kerja keras nan kompetitif, dan ketergantungan pada iced Americano, rasa capek nan terpancar dari para peserta di atas rumput taman tersebut terasa sangat nyata.
Salah seorang peserta berjulukan Park Jun Seok, nan merupakan mahasiswa berumur 20 tahun, mengenakan jubah sutera merah ala raja Dinasti Joseon kala mengikuti lomba tidur siang tersebut.
"Antara persiapan ujian dan kerja paruh waktu, saya hanya tidur 3-4 jam semalam. Saya di sini untuk memamerkan skill tidur siang saya dan menunjukkan gimana langkah seorang raja tidur," ujarnya, seperti dilansir The Independent.
Sementara itu, Yoo Mi Yeon (24), nan berprofesi sebagai pembimbing bahasa Inggris terlihat memakai kostum onesie koala nan lembek ketika terlibat dalam lomba tidur siang itu.
"Saya menderita insomnia dan susah tidur nyenyak. Koala terkenal dengan tidur pulasnya, saya datang berpakaian seperti ini dengan angan bisa meminjam sedikit 'keajaiban' mereka," tutur dia.
Kompetisi nan sekarang memasuki tahun ketiga ini menyoroti masalah serius di Korea Selatan. Data menunjukkan bahwa Korea Selatan adalah salah satu negara dengan beban kerja tertinggi dan tingkat kurang tidur paling parah di antara personil OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development).
Lalu, gimana pemenang lomba tidur ditentukan?
Tepat pukul 15.00 waktu setempat, saat penutup mata mulai dipasang, petugas berkeliling mengukur debar jantung peserta. Pembacaan debar jantung nan stabil menjadi parameter utama bahwa seseorang telah memasuki fase tidur nan dalam dan damai.
Pemenang lomba tidur siang di Seoul kali ini adalah seorang laki-laki berumur 80-an tahun (namanya tidak disebutkan). Kemudian juara kedua adalah Hwang Du Seong (37), seorang tenaga kerja kantor.
"Saya sangat capek lantaran sering lembur malam dan banyak menyetir untuk pekerjaan. Saya berkeinginan tidur untuk mengisi ulang daya di tengah semilir angin sungai, dan beruntung bisa meraih posisi kedua," ungkap Hwang Du Seong dengan penuh bahagia.
(wiw)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·