CNN Indonesia
Jumat, 17 Apr 2026 08:15 WIB
Ilustrasi. Tidur cukup memang bagus untuk kesehatan mental, apalagi bisa mencegah alzheimer. (iStockphoto/marchmeena29)
Jakarta, CNN Indonesia --
Jam tidur ideal cegah alzheimer menjadi salah satu aspek krusial nan sering diabaikan dalam menjaga kesehatan otak. Padahal, tidur bukan sekadar waktu istirahat, melainkan proses biologis krusial nan membantu tubuh dan pikiran tetap berfaedah optimal, sekaligus menekan akibat penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.
Dokter Hoang Tien Trong Nghia, Kepala Departemen Neurologi Rumah Sakit Militer 175 Vietnam, menjelaskan bahwa kebutuhan tidur setiap orang berbeda-beda, tergantung usia. Rekomendasi ini merujuk pada lembaga seperti National Sleep Foundation dan American Academy of Sleep Medicine (AASM).
Untuk orang dewasa usia 18-64 tahun, lama tidur nan disarankan adalah 7-9 jam per malam. Sementara lansia di atas 65 tahun memerlukan sekitar 7-8 jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun bayi dan anak-anak memerlukan waktu tidur lebih panjang, ialah 14-17 jam untuk bayi dan 8-10 jam untuk remaja, lantaran otak mereka tetap dalam tahap perkembangan.
Lebih dari sekadar durasi, tidur mempunyai peran vital dalam menjaga kesehatan otak. Selama tidur, otak menjalankan proses nan tidak bisa dilakukan saat terjaga, salah satunya adalah membersihkan limbah metabolisme melalui sistem glymphatic.
Menukil beragam sumber, dalam kondisi tidur nyenyak, ruang antarsel otak melebar sehingga cairan serebrospinal dapat 'membilas' protein berbisa seperti beta-amiloid, nan diketahui berangkaian erat dengan Alzheimer.
Di bagian lain, jam tidur ideal cegah alzheimer juga berasosiasi dengan keahlian otak dalam menyimpan dan memproses informasi. Saat tidur, terutama pada fase REM dan gelombang lambat, otak memindahkan info dari memori jangka pendek ke penyimpanan jangka panjang di korteks serebral.
Proses ini memperkuat daya ingat sekaligus mendukung keahlian belajar.
Tak hanya itu, tidur juga berfaedah menyeimbangkan hubungan saraf. Selama terjaga, otak terus membentuk hubungan baru nan menguras energi. Sebaliknya, saat tidur, otak 'memangkas' hubungan nan tidak diperlukan agar tetap efisien.
Kualitas tidur pun tak kalah penting. Dalam satu malam, otak memerlukan sekitar 4-5 siklus tidur, masing-masing berdurasi 90-110 menit. Siklus ini mencakup fase tidur ringan, tidur nyenyak, dan REM. Jika tidur sering terganggu, misalnya akibat sleep apnea, maka kualitas tidur nyenyak bakal menurun.
Bahkan, tidur selama delapan jam tetapi sering terbangun dinilai lebih jelek dibandingkan tidur enam jam tanpa gangguan. Hal ini lantaran proses pemulihan otak tidak berjalan optimal.
Selain menjaga kegunaan kognitif, tidur juga berkedudukan dalam kestabilan emosi. Saat tidur, hubungan antara amigdala dan korteks prefrontal diatur ulang, sehingga seseorang bisa berpikir lebih bening dan mengelola emosi dengan lebih baik keesokan harinya.
Memastikan lama dan kualitas tidur nan baik menjadi langkah sederhana namun krusial untuk menjaga kesehatan otak. Jam tidur ideal cegah alzheimer bukan hanya soal angka, tetapi juga konsistensi dan kualitas rehat setiap malam.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·