slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Jejak Wahid Hasyim, Dari Tebuireng Hingga Perumusan Dasar Negara

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

KH Abdul Wahid Hasyim, alias biasa disapa dengan nama Kiai Wahid merupakan salah satu Pahlawan Nasional yang berasal dari kalangan ustad dan ulama.

Ia bukan hanya unggul dalam bagian kepercayaan Islam, anak dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, itu juga mempunyai peran besar pada masa kemerdekaan Indonesia.

Belakangan, putra sulungnya ialah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga mempunyai peran besar mengisi kemerdekaan Indonesia hingga pascareformasi sebagai Ketua Umum PBNU, salah satu tokoh reformasi, dan menjadi Presiden keempat RI.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

KH Abdul Wahid Hasyim dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional berasas Keppres Nomor 206 Tahun 1964, 28 April 1964.

Mengutip dari laman Kemenag, Kiai Wahid telah mengkhatamkan Al-Qur'an pada saat usianya baru 7 tahun. Kiai Wahid juga dikenal mahir menggunakan huruf latin, bahasa Belanda, dan bahasa Inggris pada usia 15 tahun walaupun tak mengenyam pendidikan kolonial.

KH Abdul Wahid Hasyim lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 1 Juni 1914. Kiai Wahid berasal dari family terpandang pada saat itu. Ayahnya adalah Kiai Hasjim Asy'ari dan ibunya Nyai Nafiqah.

Ayahnya adalah pendiri pondok pesantren Tebuireng, sekaligus pendiri NU. Sedangkan ibunya merupakan anak dari KH. Ilyas, seorang pendiri Pesantren Sewulan Madiun.

Selain menuntut pengetahuan kepercayaan Islam di Pesantren Tebuireng nan didirikan ayahnya, dia juga mondok di sejumlah pesantren lain termasuk Lirboyo di Kediri, Jatim.

Pada tahun 1932, saat usianya 18 tahun, Kiai Wahid berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, sekaligus tinggal di Mekkah hingga tahun 1933 untuk mendalami pengetahuan pengetahuan Agama seperti pengetahuan tafsir, hadis, dan fiqih.

Sepulangnya dari Mekkah, Kiai Wahid berasosiasi menjadi personil pengajar Pesantren Tebuireng, dan banyak membawa perubahan, khususnya dalam memajukan Pesantren Tebuireng.

Pada masa pendudukan Jepang, semua organisasi dilarang bergerak, termasuk NU. Wadah umat Islam nan diizinkan hanya MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia = Dewan Tertinggi Islam di Indonesia) di bawah ketua KH Wahid Hasyim. Kedudukan itulah nan mengantarkannya ke pusat perjuangan bangsa Indonesia pada masa kolonialisme Jepang, menjadi Chuo Sangi In.

Dia juga kemudian terlibat dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), hingga Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Kiai Wahid juga merupakan salah satu dari Panitia Sembilan nan menandatangani Piagam Jakarta nan intinya menjadi pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) RI 1945 dan cikal bakal Pancasila.

Menteri Agama dan kecelakaan

Kiai Wahid setelah Indonesia merdeka pernah menjadi Menteri Agama pada Kabinet Republik Indonesia Serikat pada 20 September 1949 hingga 6 September 1950, Kabinet Natsir pada 6 September 1950 hingga 27 April 1951, dan Kabinet Sukiman Suwiryo pada 27 April 1951 hingga 3 April 1952.

Kabinet Sukiman Suwiryo ini menjadi kabinet terakhir bagi Kiai Wahid menjabat sebagai Menteri Agama.

Dalam perjalanannya menjabat sebagai Menteri Agama, Kiai Wahid banyak memberikan perubahan dan pendapat nan terdapat pada kebijakan-kebijakannya. Salah satunya adalah mendekritkan berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN).

KH Abdul Wahid Hasyim meninggal dalam kecelakaan di Cimahi, Bandung, Jawa Barat, pada 19 April 1953. Saat itu usianya 39 tahun dalam perjalanan untuk menghadiri rapat Nahdlatul Ulama di Sumedang, Jawa Barat.

Saat kecelakaan itu, Gus Dur nan tetap bocah ikut dalam perjalanan ayahnya. Gus Dur dan pengemudi mobil itu selamat, namun ayahnya terluka parah.

"Saya dan pengemudi selamat, merayap keluar dari mobil. Ayah saya mengalami luka berat, dia mengalami cedera serius di kepala dan keningnya. Satu sisi dari muka dan leher pun terkoyak dan memar," demikian kenang Gus Dur dalam kitab biografinya nan ditulis Greg Barton.

Kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 13.00 WIB, dan pertolongan baru tiba di tempat kejadian sekitar pukul 16.00 WIB. Selama menunggu ambulans nan bakal membawa korban ke rumah sakit di Bandung, Gus Dur duduk di tepi jalan menunggui ayahnya nan tak berdaya.

Tulisan ini adalah rangkaian dari kisah ustadz dan cerdas pandai muslim nan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia nan diterbitkan CNNIndonesia.com pada Ramadan 1447 Hijriah.

(kna/kid)

[Gambas:Video CNN]

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru