Jakarta, CNN Indonesia --
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana meminta perguruan tinggi membangun dan mengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara berdikari untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Saya kira kampus perlu memahami ini, lantaran ini kesempatan besar. Minimal punya satu SPPG dulu, dan jika bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri," ujar Dadan dalam keterangan resmi di Makassar, Selasa (28/4).
Dadan mengatakan satu unit SPPG memerlukan support pasokan bahan pangan dalam jumlah besar. Untuk kebutuhan beras, satu SPPG memerlukan sekitar 8 hektare lahan sawah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara untuk kebutuhan pakan ternak dibutuhkan sekitar 19 hektare lahan jagung. Selain itu, kebutuhan telur harian untuk satu SPPG juga memerlukan sekitar 3.700 hingga 4.000 ayam petelur.
"Kalau mau telurnya dipasok sendiri, maka kudu ada sekitar 3.700 sampai 4.000 ayam petelur untuk satu SPPG," katanya.
Menurut Dadan, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui keterlibatan civitas akademika maupun kerja sama dengan petani, peternak, dan pelaku upaya di sekitar kampus.
Ia menyebut kampus dapat menjadikan pengelolaan SPPG sebagai bagian dari aktivitas praktik lapangan mahasiswa, mulai dari pertanian, peternakan, pengolahan pangan, hingga distribusi.
Dengan demikian, kata dia, SPPG tidak hanya berfaedah sebagai dapur penyedia makanan bergizi, tetapi juga menjadi tempat penerapan aktivitas akademik nan mengenai dengan rantai pasok pangan.
Dadan menambahkan keberadaan SPPG juga dapat menjadi penampung alias offtaker bagi hasil produksi lokal.
"SPPG ini menjadi offtaker terdepan bagi produk-produk lokal. Jadi bukan hanya soal memberi makan, tapi juga menciptakan ekosistem ekonomi nan berkelanjutan," ujarnya.
Ia mengatakan program MBG memerlukan pasokan bahan pangan nan melangkah rutin sehingga perguruan tinggi dinilai perlu ikut masuk dalam pengelolaan dapur dan penyediaan bahan bakunya.
[Gambas:Video CNN]
(del/sfr)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·