Jakarta, CNN Indonesia --
Komnas HAM menyebut kejadian tewasnya 15 penduduk sipil akibat tindakan baku tembak antara abdi negara dengan Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat (TNPPB) di Kampung Kembru, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, Papua Tengah sebagai peristiwa terberat sepanjang tahun 2026.
"Peristiwa Puncak ini salah satu peristiwa terberat nan kita dapatkan di 2026 ini, saya kira ini berat sekali," kata Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM, Saurlin P. Siagian, dalam konvensi pers, Kamis (23/4).
Saurlin mengatakan pihaknya tetap terus mendalami peristiwa tersebut. Dari hasil temuan sementara, kata dia, ada indikasi peristiwa tersebut merupakan implikasi dari operasi nan dilakukan TNI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika peristiwa ini terjadi kami sudah mempunyai indikasi bahwa adanya operasi TNI di sana berimplikasi terhadap terjadi peristiwa itu dan tentu kudu kita dalami penyebab meninggal satu per satu," ucap dia.
Disampaikan Saurlin, tim saat ini juga tetap terus berupaya untuk bisa masuk ke dua distrik nan tetap berkonflik untuk bisa mendalami peristiwa nan terjadi secara utuh.
Saurlin pun berambisi bentrok ini bisa segera selesai. Tujuannya, agar tidak lagi ada korban jiwa di kemudian hari.
"Kita kudu mengingat peristiwa Puncak ini sebagai peristiwa tragedi kemanusiaan dengan meninggalnya 15 orang ini dan tujuh orang luka-luka, kita berambisi tidak ada lagi korban berikutnya," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengatakan 15 penduduk sipil tewas dan tujuh penduduk terluka akibat tindakan baku tembak antara abdi negara dengan Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat (TNPPB) di Kampung Kembru, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, Papua Tengah pada Selasa (14/4).
"Sebanyak 15 orang meninggal bumi (dalam) serangan di Kembru tersebut," kata Pigai saat bertemu pers di instansi Kementerian HAM, Kuningan, Jakarta Pusat, Senin (20/4).
Pigai mengatakan peristiwa ini telah menjadi atensi Kementerian HAM lantaran menyantap korban masyarakat sipil.
Karenanya, Kementerian HAM berupaya mendorong agar kasus ini dapat diungkap sehingga masyarakat bisa mengetahui siapa pelaku penembakan dan apa motifnya.
Menurut Pigai, masyarakat setempat semestinya sudah mengetahui siapa pelaku penembakan lantaran peristiwa tersebut terjadi antara pagi dan siang hari.
Karenanya, Pigai meminta pihak nan merasa menjadi pelaku untuk mengaku dan menjalani proses norma demi terciptanya keadilan di Papua.
"Peristiwa itu terjadi siang hari pelakunya sudah tahu. Itu tidak bisa diperdebatkan. Pelakunya rakyat sudah tahu, mereka nan menjadi korban tahu, mereka nan ada di masyarakat letak tempat juga sudah tahu. Ya sekarang silakan, jangan sembunyikan, kudu dibuka," kata Pigai.
(dis/dal)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·