CNN Indonesia
Rabu, 08 Apr 2026 18:00 WIB
Ilustrasi koper penumpang di bagasi kabin pesawat. (iStockphoto/Rrrainbow)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah penumpang pesawat ramai-ramai melayangkan kritik tajam terhadap maskapai penerbangan. Mereka mengaku dipaksa menitipkan tas bawaan (carry-on) ke bagasi pesawat dengan argumen bagasi kabin alias ruang penyimpanan di atas kepala sudah penuh.
Namun, kenyataannya para penumpang itu menemukan banyak kompartemen di bagasi kabin nan tetap kosong saat masuk ke dalam pesawat.
Keluhan nan viral di media sosial ini memicu pertanyaan besar: Apakah maskapai sekarang lebih memprioritaskan kecepatan waktu keberangkatan daripada kenyamanan penumpang?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pakar perjalanan asal New York, Lee Abbamonte, menyebut kejadian ini kian umum terjadi. Menurutnya, pemasok di gerbang keberangkatan seringkali melakukan pengecekan bagasi secara prematur untuk menghindari keterlambatan.
"Mereka mencoba memastikan penerbangan tetap sesuai agenda dengan mencegah semua penumpang masuk membawa tas besar, nan berisiko memperlambat proses boarding jika ruang di atas penuh," ujar Abbamonte, seperti dilansir Fox News.
Senada dengan perihal tersebut, ahli bicara Delta Air Lines menyatakan bahwa prosedur bagasi mereka dirancang untuk mendukung keberangkatan tepat waktu.
Maskapai menggunakan perangkat prediksi untuk memantau kapan bagasi kabin bakal penuh, dan melakukan gate-check (penitipan bagasi di gerbang) sebagai langkah terakhir.
Berbeda dengan Delta, Southwest Airlines mengakui bahwa mereka mempunyai nomor sasaran tertentu untuk jumlah tas nan kudu masuk ke bagasi berasas jumlah penumpang.
"Kami meminta tas dari grup boarding terakhir. Jadi, penumpang nan masuk lebih awal sangat mungkin memandang banyak ruang kosong di atas," ungkap ahli bicara Southwest.
Namun, strategi ini justru membikin banyak penumpang merasa tertipu ketika mereka dipaksa menitipkan tas saat proses boarding baru dimulai.
Para pelancong di forum Reddit dan TikTok mengungkapkan rasa frustrasi mereka, terutama mengenai keamanan barang-barang krusial nan mereka bawa di pesawat.
"Saya membawa popok, obat-obatan, dan peralatan krusial lainnya, tapi mereka tetap memaksa (titip bagasi)," tulis seorang pengguna Reddit.
Ketakutan terbesar penumpang adalah bagasi nan lenyap alias terpisah dari pesawat nan mereka tumpangi. "Dulu saya suka titip bagasi gratis, sampai suatu saat tas saya malah dikirim ke pesawat nan berbeda," curhat salah satu netizen.
Meskipun banyak nan memprotes, sebagian mini penumpang menyambut baik tawaran gate-check cuma-cuma lantaran membikin mereka tidak perlu repot mengangkat tas berat ke kabin, asalkan peralatan berbobot tetap mereka bawa secara manual.
(ana/wiw)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·