Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan pemerintah belum berencana meningkatkan nilai satuan tertinggi (HET) minyak goreng meski biaya produksi melonjak di tengah kenaikan harga plastik kemasan.
"Sekarang kan tetap bisa (HET tetap sama). Memang itu kan fungsinya untuk menstabilkan harga. Biar nilai nan lain enggak naik," ujar Budi di Jakarta International Expo, Jakarta Pusat, Kamis (16/4).
Saat ini, pemerintah menetapkan HET minyak goreng curah sebesar Rp14 ribu per liter, sementara untuk minyak goreng merek Minyakita dipatok Rp15.700 per liter. Kebijakan ini menjadi referensi utama untuk menjaga stabilitas nilai di tingkat konsumen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Budi menegaskan kebijakan tersebut tetap dipertahankan di tengah tekanan biaya, termasuk dari sisi bungkusan plastik nan belakangan mengalami kenaikan signifikan. Pemerintah, kata dia, bakal mengupayakan stabilisasi dari sisi pengedaran agar nilai tidak ikut terdorong naik.
Dalam kesempatan sama, dia juga menyinggung upaya penguatan pengedaran melalui skema domestic market obligation (DMO) nan mengatur penyaluran minyak goreng ke dalam negeri.
Menurut Budi, pengedaran minyak goreng tidak hanya mengandalkan satu jalur. Pemerintah tetap mendorong keterlibatan BUMN dan swasta secara berbarengan agar pasokan tetap terjaga.
"Kita kan juga memberdayakan. Banyak kan pemasok nan swasta juga jalan. Jadi semua jalan bareng. Enggak ada masalah," ujarnya.
Ia menambahkan pemerintah juga meminta agar pasokan minyak goreng, khususnya Minyakita, tetap tersedia di pasar rakyat.
"Supaya di pasar-pasar rakyat itu juga kudu diisi. Jadi sekarang Bulog aja udah tinggi itu (penyalurannya) di atas 35 persen," ujarnya.
Menteri Pertanian (Mentan) merangkap Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman juga menegaskan pemerintah tidak bakal meningkatkan HET minyak goreng meski terjadi lonjakan nilai plastik nan berakibat pada biaya distribusi.
Kenaikan nilai plastik sendiri dipicu oleh gangguan pasokan bahan baku nafta nan sebagian besar tetap diimpor, terutama dari Timur Tengah. Kondisi geopolitik dunia turut mempersempit pasokan dan mendorong biaya produksi naik.
Di lapangan, sejumlah pedagang mengeluhkan kenaikan nilai minyak goreng, khususnya curah, nan disebut ikut terdorong mahalnya bungkusan plastik. Bahkan, nilai minyak goreng curah di beberapa pasar dilaporkan menembus Rp23 ribu per kilogram.
Selain itu, pasokan Minyakita juga sempat tersendat di sejumlah daerah, sehingga mendorong nilai di atas HET. Pemerintah pun mempertimbangkan penguatan pengedaran melalui BUMN pangan seperti Perum Bulog, ID Food, dan PT Agrinas Palma Nusantara.
[Gambas:Youtube]
(del/sfr)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·