Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meminta pelaku industri plastik tidak meningkatkan nilai secara berlebihan di tengah lonjakan biaya bahan baku. Hal ini guna mencegah akibat lanjutan terhadap nilai pangan, khususnya minyak goreng.
"Jangan lah (naikkan nilai plastik), (boleh) naik-naik lah dikit, tapi jangan naik banyak banget. Udah," ujar Amran di kantornya, Jakarta Selatan, Rabu (15/4).
Ia menegaskan komoditas strategis seperti minyak goreng tidak boleh terdampak berlebihan oleh aspek di luar produksi, termasuk biaya kemasan. Pemerintah, kata dia, bakal turun tangan jika ditemukan praktik kenaikan nilai nan tidak wajar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu (harga) minyak goreng, enggak boleh macam-macam. Kasih tau aja. Jangan cari persoalan," tegasnya.
Amran juga memastikan pemerintah bakal menelusuri pihak-pihak nan diduga meningkatkan nilai secara tidak wajar, termasuk produsen alias pemasok nan terlibat dalam rantai pasok.
"Nanti saya suruh cek di mana tempatnya. PT apa nan jual. Coba sebut PT-nya. Aku suruh periksa sekarang," katanya.
[Gambas:Youtube]
Di sisi lain, dia menegaskan pemerintah tidak bakal meningkatkan nilai satuan tertinggi (HET) minyak goreng meski ada tekanan dari kenaikan biaya plastik.
Selain itu, Amran turut menyoroti kejadian kenaikan nilai minyak goreng di tengah kondisi produksi nan disebut melimpah. Ia menilai kondisi tersebut tidak sepenuhnya logis dan mengindikasikan adanya masalah di rantai distribusi.
"Sekarang beras melimpah, minyak goreng melimpah, nilai naik. Berarti apa, ada mafia di tengahnya. Masuk logika enggak jika produksi naik 6 juta ton tapi nilai tetap naik?" ucapnya.
Ia menyebut produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) nasional meningkat signifikan dan ekspor mencapai 32 juta ton berasas laporan pelaku industri. Karena itu, tidak logis jika nilai minyak goreng tetap tinggi di dalam negeri.
Dalam konteks ini, Amran menegaskan pemerintah bakal berpihak pada masyarakat dan tidak mentoleransi praktik nan merugikan konsumen.
Di tengah tekanan nilai plastik, pemerintah juga mendorong solusi jangka menengah melalui substitusi bahan baku nafta dengan CPO. Langkah ini dinilai memungkinkan lantaran kesiapan sawit domestik nan melimpah.
"Ya, enggak masalah (produksi substitusi nafta dari CPO). Bahan baku kita cukup. Lebih dari cukup. Ekspor kita 32 juta ton," ujarnya.
Ia menjelaskan peningkatan produksi CPO tetap terjadi meski sebagian dialokasikan untuk program biofuel seperti B40 hingga menuju B50. Kenaikan nilai dunia juga mendorong perbaikan produktivitas di sektor hulu.
Kenaikan nilai plastik sendiri dipicu oleh terganggunya pasokan nafta sebagai bahan baku utama nan sebagian besar tetap diimpor dari Timur Tengah. Konflik geopolitik dan gangguan pengedaran dunia turut mempersempit pasokan dan mendorong nilai naik.
Pemerintah sekarang berupaya mencari pengganti pasokan dari negara lain serta mendorong diversifikasi bahan baku, termasuk pemanfaatan CPO, LPG, dan plastik daur ulang untuk menjaga stabilitas industri.
(del/pta)
Add
as a preferred source on Google
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·