Jakarta, CNN Indonesia --
Harga plastik terus mengalami kenaikan secara signifikan di pasaran dalam beberapa waktu terakhir, apalagi mencapai tiga kali lipat di sejumlah wilayah. Kondisi ini terjadi imbas bentrok di Timur Tengah nan mendorong harga minyak bumi terus melonjak.
Lantas, gimana langkah pedagang es teh di pinggir jalan menyiasati kenaikan nilai plastik? Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com di lapangan, kebanyakan pedagang menggunakan beragam jenis produk olahan plastik untuk berjualan, mulai dari cup plastik, plastik seal, sedotan, hingga kantong plastik.
Eri, seorang penjual es teh 'Ross Tea' di Jatiasih, Bekasi mengungkapkan tidak berani meningkatkan nilai es teh nan dia jual. Ia mengaku khawatir konsumen banyak yang enggan membeli lagi, terlebih tingginya persaingan penjual es teh di sekitar tempatnya berjualan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Waduh, saya nggak berani naikin nilai meski hanya seribu (Rp1.000). Jadi ya ini saya tetap jual Rp3.000 nan cup sedang, jika cup jumbo Rp5.000. Takut malah jadi rugi dan enggak laku jika naikin mah," ujar Eri saat ditemui langsung, Rabu (15/4).
Meskipun modal shopping plastik untuk berdagang naik hingga 50 persen, Eri menegaskan tetap menjual es teh dengan nilai dan komposisi nan sama.
"Iya itu nilai cup, sedotan, kantong kresek pada naik bisa sampe 50 persen dibandingkan biasanya. Makanya ini saya rada resah juga jualan. Tapi ya demi kepuasan pengguna nilai tetap, kualitas pun juga tetap, nggak ngurangin isi teh dan esnya lah," terangnya.
[Gambas:Youtube]
Senada, penjual es teh 'Melek Tea' berjulukan Dila menyampaikan tak meningkatkan nilai es teh nan dia jual sejak nilai beragam jenis produk plastik mulai naik.
"Saya nggak naikin (harga es teh) mas sedari nilai plastik pada naik, tapi ya gitu deh untungnya jadi makin mepet aja. Cuma ya namanya upaya beginilah naik-turun, untung-rugi," ungkap Dila.
Ia pun mengatakan tetap menjual es teh dengan komposisi dan kualitas nan sama meski tak meningkatkan harganya.
"Ya, pastinya saya tetep jual seperti biasanya aja, gamau ngurang-ngurangin isi juga kelak pembeli pada komplen, apalagi nggak mau beli lagi justru lebih rugi lagi ntar," tambahnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia tetap mengandalkan impor plastik dan produk turunannya. Sepanjang Februari 2026, nilai impor plastik mencapai US$873,2 juta alias sekitar Rp14,84 triliun.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut impor tersebut berasal dari sejumlah negara utama dengan impor terbesar berasal dari China, ialah sebesar US$380,1 juta, disusul Thailand US$82,7 juta, dan Korea Selatan US$66,7 juta.
"Impor plastik alias peralatan dari plastik di Februari 2026 mencapai US$873,2 juta," ujar Ateng dalam konvensi pers, Rabu (1/4).
Sementara itu, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam menyebut sejumlah industri mulai kesulitan bahan baku, termasuk plastik sehingga ada kekhawatiran aktivitas produksi di pabrik bisa tersendat dalam beberapa bulan ke depan.
"Kita enggak tahu nih April alias Mei kita tetap bisa produksi apa enggak, gitu loh. Ini situasi nan kita hadapi saat ini. Sebagai contoh bahan baku plastik ini sudah enggak ada. Ya sudah langka," ujarnya dalam Rapat Panja dengan Komisi IX DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (14/4).
Ia pun mengungkapkan pelaku upaya menghadapi lonjakan biaya bahan baku nan signifikan, seperti plastik nan melonjak hingga 60-70 persen. Hal ini berpotensi mendorong kenaikan nilai produk di tingkat konsumen.
"Hampir semua industri. Misalnya contoh sekarang, terutama industri-industri nan bahan bakunya tergantung pada impor. Industri nan tergantung bahan bakunya dari nafta, turunan minyak bumi. Contohnya plastik, plastik kan dari nafta," kata Bob
"Bayangin aja nilai plastik bisa naik 60 persen, 70 persen. Dan nyaris semua produk menggunakan plastik kan, terutama bahan makanan gitu," imbuhnya.
(fln/ins)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·