#USTAZTANYADONG
CNN Indonesia
Rabu, 04 Mar 2026 15:00 WIB
Ilustrasi. Para pekerja lapangan sedang melakukan pekerjaannya meski sembari puasa Ramadhan. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Jakarta, CNN Indonesia --
Menjalani puasa Ramadhan bukan perkara ringan, apalagi bagi mereka nan setiap hari mengandalkan tenaga bentuk untuk mencari nafkah. Buruh bangunan, kuli angkut, petani, hingga pekerja lapangan lainnya kudu bergulat dengan terik mentari dan beban berat sejak pagi hingga sore.
Di satu sisi, puasa Ramadhan adalah tanggungjawab bagi setiap Muslim nan memenuhi syarat. Di sisi lain, menafkahi family juga merupakan tanggungjawab nan tak bisa ditinggalkan.
Lalu, gimana jika keduanya bertabrakan? Bolehkah pekerja berat membatalkan puasa demi mencari nafkah?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam program Ramadan spesial #UstazTanyaDong, CNNIndonesia.com menghadirkan sesi tanya jawab langsung berbareng Anggota MUI Kota Bandung sekaligus FKUB Kota Bandung, KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi.
Menurut Ustaz Wahyul, puasa Ramadhan adalah tanggungjawab nan tidak boleh ditinggalkan begitu saja.
"Puasa itu tanggungjawab bagi setiap Muslim nan memenuhi syarat. Kalau dilaksanakan, pahalanya berlipat ganda. Kalau ditinggalkan tanpa argumen syar'i, tentu berdosa," ujarnya.
Namun, Islam juga merupakan kepercayaan nan memberi kemudahan. Allah memberikan keringanan (rukhsah) bagi mereka nan memang tidak bisa menjalankan puasa lantaran argumen tertentu.
Beberapa golongan nan mendapat keringanan antara lain musafir, orang sakit, lansia nan sudah tidak kuat berpuasa, ibu hamil, ibu menyusui, hingga orang nan mengalami kondisi darurat seperti tercekik haus. Keringanan itu bisa berupa qadha di luar bulan Ramadan, bayar fidyah, alias keduanya, tergantung kondisi masing-masing.
Lantas, gimana dengan pekerja berat?
Ustaz Wahyul menjelaskan bahwa tanggungjawab mencari nafkah memang sangat penting, terlebih jika menjadi tulang punggung keluarga. Namun, tanggungjawab puasa sebagai salah satu rukun Islam tetap kudu diperhatikan.
"Karena sama-sama kewajiban, maka tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Tetap niat puasa di malam hari dan jalankan puasa seperti biasa," jelasnya.
Artinya, pekerja berat tetap dianjurkan untuk memulai hari dengan niat berpuasa. Jika di tengah hari rupanya kondisi bentuk betul-betul tidak kuat, misalnya lemas berlebihan, nyaris pingsan, alias berisiko membahayakan kesehatan maka diperbolehkan untuk membatalkan puasa.
"Kalau memang di siang hari terasa sangat berat dan dikhawatirkan membahayakan, maka boleh membatalkan puasa. Nanti diganti di luar bulan Ramadhan," tambahnya.
Dengan kata lain, pekerja berat tidak otomatis boleh tidak berpuasa sejak awal hanya lantaran pekerjaannya. Ia tetap wajib beriktikad dan berupaya menjalankan puasa. Keringanan diberikan ketika kondisi betul-betul tidak memungkinkan.
Hal ini sejalan dengan prinsip Islam nan tidak membebani umatnya di luar kemampuan. Menjaga kesehatan agar tetap bisa beragama dan bekerja juga termasuk perihal nan penting. Sebab, tubuh nan sehat menjadi sarana untuk menunaikan beragam tanggungjawab lainnya.
Bagi pekerja berat, persiapan sahur nan baik, cukup cairan, serta manajemen daya saat bekerja bisa sangat membantu. Jika memungkinkan, mengatur ritme kerja agar tidak terlalu memforsir tenaga di jam-jam terpanas juga menjadi ikhtiar nan bijak.
"Puasa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang menakar keahlian diri, menjaga niat, dan memahami bahwa Islam selalu menghadirkan keseimbangan antara tanggungjawab dan kemaslahatan," kata Wahyul.
Punya pertanyaan lain seputar puasa? Selama bulan Ramadan, CNNIndonesia.com menghadirkan program #UstazTanyaDong. Anda bisa langsung mengirimkan pertanyaan melalui akun media sosial CNN Indonesia dan mendapatkan jawaban langsung dari KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi.
Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tapi juga belajar lebih tenang, bijak, dan penuh pengetahuan dalam menjalani ibadah.
(tis/tis)
[Gambas:Video CNN]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·