slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Pengusaha Was-was Banjir Impor China Di Tengah Perang Iran

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Kekhawatiran banjir produk impor, khususnya dari China, menguat di kalangan pengusaha seiring lonjakan nilai bahan baku nan mengerek biaya produksi dalam negeri.

Kondisi ini dinilai berisiko membikin produk lokal kalah saing di pasar domestik.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Danang Girindrawardana menilai situasi tersebut menjadi ancaman serius bagi industri tekstil nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nah, itu nan paling kami khawatirkan adalah lantaran komponen produksi dalam negeri untuk domestik menjadi tinggi," ujar Danang di Jakarta International Expo, Jakarta Pusat, Kamis (16/4).

Ia menjelaskan kenaikan nilai bahan baku tekstil nan mencapai 30 hingga 40 persen membikin biaya produksi dalam negeri melonjak. Di sisi lain, produk impor justru berpotensi semakin membanjiri pasar lantaran harganya lebih murah.

"Yang kami khawatirkan justru luberan impor semakin menjadi-jadi. Jadi bukan masalah konsumen bakal lebih mahal, tapi justru konsumen bakal mencari bahan nan lebih murah, tidak memandang dari mana itu berangkat," lanjutnya.

Menurut Danang, daya saing industri tekstil nasional tetap tertinggal dibandingkan produk impor, terutama dari China. Ia menyebut nilai produk tekstil impor bisa jauh lebih murah dibandingkan produksi dalam negeri.

"Kita kudu mengakui bahwa kompetitif indeks produk-produk tekstil dan garmen untuk domestik, kita tetap kalah dengan produk-produk China nan masuk ke Indonesia. Mereka bisa dari China ke Indonesia, sampai ke Indonesia dengan nilai nan kurang lebih separuh sampai tiga per empat lebih murah dari produksi kita. Itu berbahaya," katanya.

Selain itu, dia mengingatkan kenaikan biaya produksi tak hanya berasal dari bahan baku, tetapi juga berpotensi terdorong oleh kenaikan daya dan terganggunya rantai pasok global, terutama untuk bahan kimia turunan minyak bumi nan banyak dipasok dari Timur Tengah.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan pemerintah bakal memperketat pengawasan terhadap peralatan terlarangan nan masuk ke pasar domestik.

"Ilegal nan sudah enggak boleh, ya tadi pengawasannya, nan pertama peralatan terlarangan itu berfaedah peralatan nan enggak boleh masuk Indonesia. Kalau dia sampai masuk itu berfaedah pelanggaran, termasuk kayak busana jejak ya," ujar Budi saat ditemui di letak nan sama.

Ia menilai kondisi tekanan bahan baku saat ini merupakan akibat krisis dunia nan tidak hanya dialami Indonesia. Kendati, dia memastikan aktivitas industri dalam negeri tetap berjalan.

"Jadi enggak perlu cemas ya, industrinya jalan terus, pasar di dalam negeri itu sudah besar banget," katanya.

Budi juga menepis kekhawatiran bakal kelangkaan bahan baku secara luas. Menurutnya, hingga saat ini pasokan tetap relatif kondusif meski terdapat tekanan nilai di beberapa komoditas.

"Tidak susah ya, lantaran begini kan, sekarang juga tetap terus berjalan. Contohnya, mungkin nan paling mudah saya kasih contoh plastik ya," ujarnya.

Kenaikan nilai bahan baku tak hanya terjadi di sektor tekstil, tetapi juga industri lain nan berjuntai pada impor, seperti plastik. Gangguan pasokan nafta, bahan baku utama plastik, akibat bentrok di Timur Tengah mendorong nilai melonjak di dalam negeri.

Di sejumlah pasar, nilai plastik kantong naik dari sekitar Rp15 ribu menjadi Rp23 ribu per pak.

Plastik bungkusan apalagi melonjak dari Rp36 ribu menjadi Rp60 ribu. Dalam beberapa kasus, kenaikan nilai dilaporkan mencapai 30 persen hingga 60 persen, apalagi hingga dua kali lipat.

Kondisi ini membikin biaya produksi beragam sektor meningkat dan berpotensi menekan daya saing industri dalam negeri. Hal ini memicu kekhawatiran bakal membanjirnya produk impor nan lebih murah di pasar domestik.

[Gambas:Youtube]

(del/sfr)

Add as a preferred
source on Google

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru