slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Penumpang Belakang Mobil Wajib Pakai Safety Belt Atau Tidak?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Ada satu kebiasaan naik mobil nan salah menurut keselamatan berkendara tapi terus-terusan dilakukan ialah penumpang belakang tak memakai sabuk keselamatan (sabuk pengaman/safety belt/seat belt). Kebiasaan ini bisa berujung bahaya, terutama saat mudik mengingat lamanya waktu berada di kabin.

Berdasarkan aturan, Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 106 ayat 6, pihak nan wajib mengenakan sabuk keselamatan hanya dua, ialah pengemudi dan penumpang di sampingnya. Dalam izin itu tak ada nan spesifik menyatakan penumpang belakang wajib pakai sabuk keselamatan.

Walau demikian, Pengamat dan Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan pengemudi dan penumpang di baris mana pun wajib memakai sabuk keselamatan saat mobil sudah berjalan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Iya. Jadi prinsipnya adalah siapa pun nan ada di dalam kabin, ketika mobil itu sudah berjalan, wajib menggunakan safety belt," ujar Sony saat dihubungi, Kamis (12/3).

Menurutnya, penggunaan safety belt berangkaian dengan upaya menjaga keselamatan selama berkendara, terutama menyangkut nyawa penumpang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekalipun undang-undang bilang bahwa nan wajib pakai safety belt hanya depan, tetapi kita bicara tentang safety, tentang keselamatan berkendara, tentang nyawa penumpang, ya wajib lah pengemudi mengingatkan penumpang untuk pakai safety belt, gitu," tuturnya.

Risiko keselamatan fatal dapat terjadi lantaran kelalaian menggunakan safety belt saat berkendara. Kelalaian pertama adalah jumlah penumpang tidak sesuai dengan jumlah bangku dan safety belt nan tersedia.

"Nah, ketika kita mudik ini seringkali kan satu mobil dijejelin dengan banyak penumpang gitu ya. Nah itu menurut saya kurang bijaksana. Jadi pastikan jumlah penumpang itu kudu sama dengan jumlah safety belt," kata Sony.

Produsen mobil saat ini juga sudah mulai bawel soal penggunaan safety belt untuk penumpang belakang. Sejumlah model mobil keluaran baru sekarang punya parameter plus peringatan bunyi jika penumpang tak pakai safety belt.

Peringatan itu bukan hanya muncul untuk penumpang depan, melainkan juga ke semua jok ketika sensor mendeteksi berat penumpang. Salah satu jenis sensor pemakaian safety belt menggunakan dua magnet di jok nan ketika bergesekan membikin parameter dan peringatan menyala.

Modikasi dan isofix

Sony juga menjelaskan masalah lain soal safety belt, ialah dikatakan tetap banyak pemilik mobil nan belum mengetahui pentingnya safety belt mudah terlihat dan bisa digunakan oleh penumpang di row belakang. Padahal, posisi safety belt idealnya tidak boleh tertutup agar dapat digunakan dengan mudah.

"Nah itu memang safety belt itu kudu dikeluarin dari jok. Harusnya ditongolin agar dipakai," tuturnya.

Menurut Sony, pemilik mobil semestinya tidak memodifikasi safety belt untuk menghindari komponen keselamatan ini kandas berfungsi.

"Jadi nan saya mau garisbawahi di sini adalah harusnya kita tidak memodifikasi safety belt itu dengan argumen apa pun," ujarnya.

Satu lagi kelalaian pemilik mobil adalah tidak memahami ketentuan penggunaan children seat di row belakang. Mobil tanpa bawaan fitur Isofix semestinya tidak disarankan dipasangkan tambahan bangku unik anak.

"Kemudian ada juga misalnya kita bawa bayi. Bayi itu kan biasanya ada children seat sendiri. Kalau memang kendaraannya itu tidak dilengkapi dengan Isofix, harusnya si baby children (seat) itu tidak dipasang alias digunakan oleh anak bayinya, alias balitanya. Nah, nan sering terjadi adalah, ya itu tadi, bukan safety belt-nya, tetapi mobil ini tidak dilengkapi Isofix, tetapi ditaruhlah baby children (seat)," tuturnya.

Jika mobil tidak mempunyai fitur Isofix di bangku belakang, anak-anak semestinya dipangku oleh orang dewasa, dengan catatan keduanya tidak boleh duduk di bangku depan.

"Nah jika sekarang mobil itu tidak dilengkapi dengan Isofix, berfaedah balitanya wajib dipangku oleh orang tuanya. Tapi sekali lagi duduknya tidak boleh di depan, dia kudu duduk di row kedua. Di belakang, gitu," kata Sony.

Terkait langkah mengidentifikasi Isofix, pemilik dapat mengecek keberadaan label bertuliskan 'Isofix' di area jok.

"Nah, Isofix itu ada di ada di sandaran jok. Ada logonya di situ. Makanya, mobil-mobil nan ada Isofix-nya itu tidak boleh di-cover jok. Karena tulisan Isofix-nya itu bakal ketutup nanti," ujarnya.

Sony tetap mengimbau pemilik mobil tidak memodifikasi kendaraan secara berlebihan sampai mengganggu komponen dan fitur krusial penjaga keselamatan.

"Ya, saya tidak menyarankan mobil itu dimodifikasi berlebihan ya. Artinya, kita boleh modifikasi, tetapi kudu sesuai dengan kebutuhan. Ya banyak perihal memang modifikasi tujuannya kudu jelas dulu, walaupun itu baik ya. Tetapi kudu jelas dulu bahwa itu mengganggu keselamatan, mengganggu operasional dari perangkat keselamatan alias nggak," pungkasnya.

(iqb/fea)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru