slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Perbandingan Pajak Kepemilikan Mobil Antara Indonesia Dan Malaysia

Sedang Trending 11 bulan yang lalu

CNN Indonesia

Senin, 19 Mei 2025 19:36 WIB

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai biaya pajak kepemilikan mobil di Tanah Air sangat tinggi. Tarif pajak nan biasa dibayar pengguna mobil setiap tahun tersebut dianggap sudah terlalu tinggi di Indonesia jika dibandingkan negara Malaysia. CNN Indonesia /Adhi Wicaksono

Jakarta, CNN Indonesia --

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai biaya pajak kepemilikan mobil di Tanah Air sangat tinggi. Bahkan, tarif pajak nan biasa dibayar pengguna mobil setiap tahun tersebut dianggap sudah terlalu tinggi jika dibandingkan negara Malaysia.

Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo mengurai perbedaan pajak tahunan mobil antara Indonesia dan Malaysia menggunakan parameter kepemilikan Toyota Avanza.

Menurut Kukuh pengenaan pajak tahunan Avanza di Indonesia terpaut jauh lebih tinggi daripada Malaysia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kenapa Avanza, ini lantaran lebih mudah. Jadi kan di sini ada, dan di Malaysia juga ada Avanza. Dan kami sudah lakukan crosscheck," kata Kukuh di instansi Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (19/5).

Kata dia pengguna Avanza di Indonesia kudu mengeluarkan biaya paling tidak Rp4 jutaan setiap tahun untuk pajak, sedangkan di Malaysia hanya sekitar Rp385 ribu.

Kemudian pengguna Avanza di Malaysia tak dikenakan biaya perpanjangan setiap lima tahun sekali.

Lalu tarif Bea Balik Nama (BBN) Avanza terpaut sangat jauh, di Indonesia mencapai Rp2 juta, sedangkan Malaysia hanya Rp500 ribu.

"Jadi, jika itu dikurangi kan lumayan, alias dibuat lebih rasional," ucap Kukuh.

Kukuh menilai pengenaan pajak tinggi buat mobil jenis tertentu tersebut tak lagi relevan saat ini.

"Karena mobil-mobil seperti ini boleh dibilang bukan lagi peralatan mewah. Karena misalnya jenis-jenis nan Rp300 juta alias Rp400 juta ke bawah, itu sudah menjadi bagian dari hidupnya lantaran dipakai untuk mencari nafkah. Jadi saatnya kita mengevaluasi," ujar Kukuh.

Kukuh juga turut menyinggung soal pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil jenis tertentu. Bagi dia pengenaan tarif itu perlu dikaji ulang agar tidak membebani masyarakat nan hendak membeli mobil baru.

[Gambas:Video CNN]

(ryh/mik)

[Gambas:Video CNN]

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru