Jakarta, CNN Indonesia --
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat tren penurunan sepanjang April 2026. Selama periode ini, IHSG turun 3,17 persen alias 227,64 poin ke level 6.956.
Tekanan IHSG datang dari beragam sentimen, mulai dari pelemahan rupiah, arus keluar modal asing, hingga ketidakpastian global.
Kondisi tersebut tentu membikin sebagian penanammodal kelimpungan untuk menentukan strategi nan tepat saat tekanan datang dari kondisi internal maupun eksternal Tanah Air.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun begitu, para analis pasar modal menganjurkan agar penanammodal Tanah Air bisa tetap tenang namun tetap selalu waspada bakal kemungkinan nan bisa terjadi ke depan.
Untuk itu, ada beberapa perihal nan bisa diterapkan penanammodal untuk tetap tenang dan waspada di situasi saat ini.
1. Jangan Terburu-buru Cut Loss
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menyarankan penanammodal menahan (hold) saham nan dimiliki. Namun, keputusan tersebut kudu disertai sejumlah pertimbangan, terutama dari sisi fundamental.
"Kami berpandangan dengan kondisi saat ini maka keputusan hold saham untuk penurunan lebih dari 30 persen kudu mempunyai pondasi esensial nan solid, baik dari operasional hingga kesehatan neraca," katanya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (1/5).
Selama statusnya tetap unrealized loss (kerugian belum direalisasikan), penanammodal dinilai masih berpotensi untuk memperoleh untung saat pasar mengalami technical rebound.
Ia juga menekankan agar penanammodal lebih selektif dalam memilih emiten, khususnya nan tetap kuat secara fundamental, serta bisa memperkuat di tengah tekanan pasar.
Pandangan serupa disampaikan Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji yang menyarankan penanammodal untuk menahan saham dan konsentrasi pada manajemen risiko.
"Hold saja lantaran nan paling krusial adalah risk management, bisa pakai strategi dollar cost averaging alias averaging down," katanya.
Ia menilai strategi tersebut lebih baik dibandingkan cut loss lantaran tetap berada pada posisi unrealized loss. Jika pasar berbalik arah dan mengalami rebound, penanammodal berpotensi memperoleh keuntungan.
"Kalau misalnya IHSG bisa mengalami pullback alias technical rebound, tentunya bisa dapat profit gain," ujar Nafan.
2. Terapkan Dollar Cost Averaging (Cicil Bertahap)
Strategi lain nan bisa diterapkan adalah tidak menggunakan seluruh "peluru" alias modal secara sekaligus. Ini mengingat kondisi pasar condong tetap volatil (naik-turun secara tajam), sehingga memerlukan strategi pembelian secara bertahap.
Strategi ini dapat membantu investor untuk mendapatkan nilai rata-rata nan lebih baik. Selain itu, penanammodal disarankan menghindari saham dengan eksposur tinggi terhadap dolar AS, baik dari sisi utang maupun impor.
"Sehingga, keputusan strategi Dollar cost averaging tetap logis di tengah tekanan pasar, tetapi lebih selektif," ujar Oktavianus.
Investor juga perlu memerhatikan seberapa besar emiten terpapar dampak volatilitas nilai tukar Dolar AS. Itu termasuk menghindari emiten dengan catatan utang dalam mata duit asing dan keahlian perusahaan berjuntai pada bahan baku impor.
"Jangan gunakan semua peluru lantaran IHSG tetap volatil, maka lakukan pembelian secara berjenjang (averaging). Kita tidak pernah tahu di mana bottom sebenarnya sampai dia sudah lewat," ujar Nafan.
3. Selektif Memilah Saham
Keputusan untuk menahan saham kudu dibarengi riset mendalam. Untuk itu, Oktavianus menekankan pentingnya memastikan pondasi operasional emiten nan solid, disertai neraca finansial nan sehat.
Sementara itu, Nafan menyarankan investor untuk menerapkan strategi value investing dengan memilih saham nan secara esensial tetap murah, tetapi mempunyai prospek pertumbuhan.
Diversifikasi juga menjadi perihal krusial dengan mengombinasikan saham melindungi seperti perbankan dan konsumsi non-siklikal, dengan saham berbasis pertumbuhan seperti pertambangan.
[Gambas:Youtube]
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·