CNN Indonesia
Rabu, 25 Feb 2026 06:47 WIB
Ilustrasi. Studi terbaru menemukan, rambut bisa mendeteksi Parkinson. (istockphoto/Image Source)
Jakarta, CNN Indonesia --
Studi terbaru menemukan, rambut bisa mendeteksi Parkinson. Hal ini ditemukan oleh sebuah studi nan dilakukan di China.
Melansir Science Alert, para peneliti menganalisis rambut dari 60 pasien pengidap Parkinson. Rambut itu dibandingkan dengan rambut milik golongan sehat dengan usia nan sama. Hasilnya, peneliti menemukan perbedaan mencolok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penemuan ini berpotensi bisa dijadikan diagnostik nan tinggi untuk penyakit Parkinson," ujar pemimpin studi sekaligus mahir biologi dari Hebei University, Ming Li.
Selama ini, pemeriksaan Parkinson tetap menjadi tantangan tersendiri. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah peneliti percaya bahwa Parkinson bisa dideteksi melalui darah. Namun, rambut merupakan perihal anyar nan condong unik.
Rambut mengakumulasi logam berat dari makanan alias lingkungan sekitar. Rambut dapat menyimpan catatan kesehatan nan lebih lengkap. Salah satunya, rambut nan bisa mendeteksi Parkinson.
Para peneliti melakukan percobaan lebih lanjut melibatkan model tikus nan menderita penyakit mirip Parkinson. Mereka menemukan kadar unsur besi nan rendah pada rambut nan mengenai dengan disfungsi usus.
Pada pasien manusia dengan Parkinson, perubahan kuman usus muncul bertahun-tahun sebelum diagnosis. Kekurangan unsur besi pada rambut pengidap Parkinson merupakan salah satu parameter nan bisa dijadikan acuan.
"Dengan mempertimbangkan semua hasil ini, kami menyarankan bahwa penurunan unsur besi pada rambut dapat dikaitkan dengan disfungsi gastrointestinal pada pengidap Parkinson," tulis para peneliti.
Studi sebelumnya juga pernah menemukan bukti adanya gangguan izin unsur besi otak dan usus pengidap Parkinson.
Kendati demikian, studi ini belum memasuki tahap peer-review. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan bahwa rambut bisa mendeteksi Parkinson.
Parkinson sendiri merupakan penyakit neurodegeneratif nan memengaruhi kontrol aktivitas tubuh. Penyakit ini terjadi saat sel-sel saraf di otak rusak dan berakhir memproduksi dopamin hingga menyebabkan tremor, otot kaku, dan gangguan keseimbangan.
Tak diketahui pasti apa penyebab Parkinson. Beberapa penelitian mengaitkan penyakit ini dengan gangguan kuman usus dan pola makan nan tidak sehat. Bukti lain juga menunjukkan, Parkinson mengenai erat dengan polutan lingkungan, seperti pestisida.
(asr)
[Gambas:Video CNN]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·