CNN Indonesia
Selasa, 03 Mar 2026 17:45 WIB
Ilustrasi. Saat urine berwarna pekat selama puasa, jangan langsung berprasangka penyakit ginjal. Berikut penjelasannya. (iStockphoto/patchanan promunat)
Jakarta, CNN Indonesia --
Saat berpuasa, sebagian orang menyadari warna urine berubah menjadi lebih gelap alias pekat. Kondisi ini kerap menimbulkan kekhawatiran karena perubahan warna urine kerap dikaitkan dengan tanda penyakit ginjal. Apa memang betul demikian?
Selama puasa, tubuh tidak mendapat asupan cairan selama belasan jam. Jika kebutuhan cairan tidak tercukupi saat sahur dan berbuka, tubuh bisa mengalami dehidrasi ringan. Salah satu tanda paling mudah dikenali adalah warna urine nan lebih gelap dari biasanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari Healthline, pada awal masa puasa tubuh melepaskan lebih banyak air dan garam melalui urine. Proses ini dikenal sebagai diuresis alami saat puasa. Jika cairan nan lenyap tidak segera digantikan, seseorang bisa mengalami dehidrasi.
Salah satu parameter sederhana untuk memantau hidrasi adalah warna urine. Idealnya, warna urine menyerupai warna kuning pucat seperti limun encer. Jika warnanya kuning tua alias lebih gelap, itu bisa menjadi tanda tubuh kekurangan cairan.
Dehidrasi tidak hanya membikin urine pekat, tetapi juga dapat memicu sakit kepala, lemas, hingga gangguan konsentrasi.
Apakah mengenai penyakit ginjal?
Melansir EMC Healthcare, urine pekat tidak selalu berfaedah ada kerusakan ginjal. Pada orang sehat, kondisi ini sering kali hanya menandakan kurang minum. Warna urine biasanya bakal kembali lebih bening setelah kebutuhan cairan terpenuhi.
Akan tetapi, cairan saat puasa dapat meningkatkan akibat gangguan kegunaan ginjal, terutama pada orang nan sudah mempunyai riwayat penyakit ginjal. Dehidrasi dapat mengurangi aliran darah ke ginjal dan dalam jangka panjang berisiko memicu batu ginjal akibat urine nan terlalu pekat.
Yang perlu diwaspadai adalah jika urine pekat disertai indikasi lain seperti nyeri pinggang hebat, mual, muntah, bengkak pada tubuh, alias jumlah urine nan sangat sedikit.
Kandungan keton pada urine
Puasa juga dapat menyebabkan munculnya keton dalam urine. Dilansir dari Cleveland Clinic, keton adalah unsur nan diproduksi tubuh ketika menggunakan lemak sebagai sumber daya pengganti glukosa. Dalam jumlah kecil, keton di urine tetap tergolong normal, terutama saat berpuasa alias menjalani pola makan rendah karbohidrat.
Hanya saja, kadar keton nan tinggi bisa berbahaya, terutama pada penderita diabetes, lantaran dapat memicu kondisi serius nan disebut ketoasidosis diabetik.
Kadar keton dalam urine biasanya dikategorikan sebagai kecil, sedang, alias besar. Kadar nan tinggi memerlukan pertimbangan medis segera, terutama jika disertai indikasi seperti mual, napas berbau manis, alias kadar gula darah tinggi.
Cara menjaga ginjal tetap sehat selama puasa
Ilustrasi. Pastikan kebutuhan cairan tercukupi selama berpuasa. (Nindya Putri Hermansyah)
Agar ginjal tetap berfaedah optimal selama puasa, beberapa langkah nan bisa dilakukan antara lain:
- Memastikan asupan cairan cukup antara berbuka hingga sahur
- Mengurangi konsumsi garam berlebihan
- Tidak berlebihan mengonsumsi protein tinggi
- Menghindari minuman berkafein secara berlebihan
- Mengonsumsi buah dan sayur nan membantu menjaga keseimbangan cairan
Pada dasarnya, urine pekat saat puasa lebih sering disebabkan oleh dehidrasi ringan. Namun, tetap krusial untuk memperhatikan perubahan nan tidak biasa dan mengenali tanda-tanda nan memerlukan pemeriksaan medis.
Menjaga asupan cairan dan pola makan seimbang menjadi kunci agar puasa tetap lancar tanpa mengganggu kesehatan ginjal.
(anm/els)
[Gambas:Video CNN]
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·