Jakarta, CNN Indonesia --
Utang nasional Amerika Serikat (AS) terus menanjak dan sekarang mencapai US$38,56 triliun alias setara dengan Rp650,094 ribu triliun (asumsi kurs Rp16.860 per dolar AS).
Melansir laman resmi Joint Economic Committee United States Congress, total utang nasional bruto (total gross national debt) per 4 Februari tercatat sebesar US$ 83,56 triliun.
Dari jumlah tersebut, utang nan dipegang publik (debt held by the public) mencapai US$30,96 triliun alias senilai Rp521,9 ribu triliun, sedangkan utang intrapemerintah (intragovernmental debt) sebesar US$7,61 triliun, setara Rp128,2 ribu triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara tahunan, total utang nasional bruto meningkat US$2,35 triliun alias senilai Rp39,62 ribu triliun dibandingkan periode nan sama tahun lalu. Jika dibandingkan lima tahun lalu, lonjakannya mencapai US$10,70 triliun alias setara Rp180,40 ribu triliun.
Dalam setahun terakhir, laju kenaikan utang rata-rata mencapai US$6,43 miliar per hari alias sekitar Rp108,41 triliun per hari.
Kenaikan utang dalam setahun terakhir juga setara dengan tambahan beban sebesar US$6.894,56 per orang alias sekitar Rp116,24 juta per orang serta US$17.401,98 per rumah tangga alias sekitar Rp293,40 juta per rumah tangga.
Secara total, utang nasional bruto sekarang setara dengan US$113.354 per orang alias sekitar Rp1,91 miliar per orang serta US$286.108 per rumah tangga alias sekitar Rp4,82 miliar per rumah tangga.
Dengan dugaan rata-rata pertumbuhan harian selama tiga tahun terakhir berlanjut, utang AS diperkirakan bakal menembus US$39 triliun alias sekitar Rp657,54 ribu triliun sekitar 12 April 2026. Pada laju tersebut, tambahan US$1 triliun berikutnya alias sekitar Rp16,86 ribu triliun diperkirakan tercapai dalam waktu sekitar 154 hari.
Di tengah lonjakan utang tersebut, International Monetary Fund (IMF) memperkirakan ekonomi AS tetap bakal tumbuh lebih sigap tahun ini, namun memperingatkan bahwa kenaikan utang publik menimbulkan "risiko stabilitas nan semakin besar" bagi AS maupun perekonomian global.
Dalam temuan awal konsultasi Article IV, IMF mencatat ekonomi AS menunjukkan keahlian solid sepanjang 2025, ditopang pertumbuhan produktivitas nan kuat meski sempat terdampak penutupan pemerintahan (government shutdown) pada akhir tahun lalu.
IMF menyebut tarif impor mendorong kenaikan inflasi barang, namun inflasi jasa terus melandai. Pasar tenaga kerja juga dinilai tetap mendekati kondisi full employment meski pertumbuhan lapangan kerja melambat. Kondisi finansial relatif longgar, pasar saham mencetak rekor tertinggi, dan defisit federal sedikit menyempit menjadi 5,9 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun fiskal 2025.
Pertumbuhan ekonomi AS diproyeksikan naik dari 2,2 persen tahun lampau menjadi 2,4 persen tahun ini. Tekanan inflasi akibat tarif diperkirakan mereda dalam beberapa bulan ke depan, sementara tingkat pengangguran diprediksi memperkuat di kisaran 4 persen pada 2026-2027.
Namun demikian, IMF memperkirakan defisit anggaran bakal kembali melebar hingga melampaui 6 persen terhadap PDB dalam beberapa tahun mendatang, dengan rasio utang federal terhadap PDB terus meningkat.
IMF memperingatkan jika defisit keseluruhan memperkuat di kisaran 7-8 persen terhadap PDB, utang publik dapat melonjak hingga sekitar 140 persen terhadap PDB pada 2031.
Lembaga tersebut menekankan perlunya rencana konsolidasi fiskal nan jelas dan dilakukan lebih awal (front-loaded) untuk menempatkan utang pada jalur menurun.
Terkait kebijakan moneter, IMF menilai bank sentral AS (The Fed) berpotensi melonggarkan kebijakan pada 2025 seiring pelambatan pertumbuhan lapangan kerja dan terbatasnya pengaruh lanjutan dari tarif. Suku kembang referensi federal funds rate (FFR) diperkirakan turun ke kisaran 3,25-3,5 persen pada akhir 2026.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menegaskan ekonomi AS diperkirakan tetap kuat tahun ini dan tahun depan. Namun, dia menekankan kenaikan utang publik nan berkepanjangan tetap menjadi sumber kekhawatiran dan memerlukan langkah kebijakan nan tegas.
[Gambas:Video CNN]
(ldy/fln)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·