CNN Indonesia
Kamis, 23 Apr 2026 15:30 WIB
Pemandangan suasana di Venesia, Italia, nan di masa depan diprediksi bakal tenggelam. (AFP/GABRIEL BOUYS)
Jakarta, CNN Indonesia --
Para intelektual memprediksi monumen-monumen di Venesia, Italia, hanya bakal bisa diakses menggunakan kapal selam jika permukaan air laut terus naik.
Kota di Italia nan terkenal dengan kanal berliku dan jaringan pulaunya ini sedang terancam tenggelam. Penyebabnya adalah kombinasi naiknya permukaan air laut dan beban pariwisata massal (overtourism), nan dalam beberapa tahun terakhir telah menyebabkan turis dan air membanjiri jalan-jalan kota.
Seperti dilansir The Independent, laporan dari University of Salento, nan diterbitkan Kamis (16/4), menyebut bahwa proyeksi kenaikan permukaan air laut memerlukan penyesuaian jangka panjang nan "belum pernah ada sebelumnya."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini kudu menyeimbangkan pelestarian warisan budaya, kesejahteraan sosial, dan biaya perawatan nan besar.
Para peneliti menyarankan Venesia untuk mempertimbangkan penggunaan penghalang banjir besar guna mengisolasi kota dari laguna, alias mengelilingi laguna dengan waduk pesisir permanen.
Dalam skenario terburuk, di mana kota terendam sepenuhnya, lokasi wisata berhistoris kudu direlokasi lebih jauh ke daratan dengan langkah dibongkar dan dirakit kembali.
Meskipun perihal ini tidak bakal terjadi dalam waktu dekat, kenaikan ekstrem permukaan air laut mungkin tidak dapat dihindari pada abad ke-22 di bawah kebijakan suasana saat ini dan perkiraan runtuhnya lapisan es Antartika.
Venesia merupakan rumah bagi banyak monumen bersejarah, seperti Basilika Santo Markus nan bergaya Bizantium dan Istana Doge nan bergaya Gotik.
Meskipun laporan tersebut menyebut bahwa beberapa monumen mungkin bisa diselamatkan jika direlokasi, namun tatanan kota bersejarah, budaya berbasis laguna, style hidup tradisional, dan sebagian besar aktivitas ekonomi bakal lenyap secara ireversibel alias tidak dapat dipulihkan.
Para peneliti memperkirakan proyek semacam ini bisa menelan biaya hingga 100 miliar euro alias sekitar Rp1.740 triliun. Selain monumen, rumah-rumah masyarakat juga kudu ditinggalkan, dengan kerugian properti pribadi mencapai 6,5 miliar euro alias sekitar Rp113 triliun.
Siapa pun nan mau mengunjungi sisa-sisa reruntuhan nan tergenang hanya bisa melakukannya dalam waktu terbatas menggunakan perahu dan kapal selam.
"Ada hal-hal nan bisa kita lakukan untuk menunda skenario ini, tapi itu tidak bakal sukses selamanya, masa depan tampaknya tidak bisa dihindari," kata Piero Lionello, nan memimpin penelitian di University of Salento, kepada The Times.
Pada tahun 2020, Venesia memperkenalkan Mose, sistem penghalang banjir nan ditempatkan di beragam pintu masuk laguna, untuk melindungi kota dan pulau-pulaunya dari pasang tinggi dan banjir besar.
Lebih dari separuh kota berada 80 cm hingga 120 cm di atas permukaan laut rata-rata, nan membuatnya sangat rentan terhadap banjir. Lionello mengatakan bahwa pada tahun 2100, permukaan laut rata-rata di Venesia bisa naik antara 42 cm dan 81 cm.
(wiw)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·