CNN Indonesia
Rabu, 25 Feb 2026 11:29 WIB
Ilustrasi. Media sosial tengah ramai membahas temuan produk kurma bungkusan nan ditambahkan sirup glukosa di dalamnya. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --
Jagat media sosial ramai membahas temuan warganet mengenai produk kurma dalam kemasan. Pada label original produk tercantum tambahan sirup glukosa, namun pada label tambahan berkata Indonesia hanya tertulis kurma.
"Ada yg bisa jelaskan? Di label original ada tertera bahan lain. Kenapa di label tambahan bahasa Indonesia hanya di-list buah kurma? Bukannya mesti ditulis semuanya ya? Gak semua orang ngerti makna yg di atas, taunya ini kurma tanpa tambahan apapun. Atau glucose syrup dan pengawet E202 itu memang secara alami ada pada kurma?" tulis akun X @SeputarTetangga, Kamis (19/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter ahli gizi, Johanes Chandrawinata menjelaskan bahwa kurma secara alami memang mengandung gula dalam jumlah tinggi.
"Kurma banyak mengandung gula, terutama glukosa, fruktosa, serta sukrosa. Kandungan gulanya berbeda tergantung jenis kurmanya," ujar Johanes kepada CNNIndonesia.com, Selasa (24/2).
Ia mencontohkan, satu butir kurma Medjool dapat mengandung sekitar 16 gram (g) gula. Sementara dalam 100 g kurma tanpa biji, terdapat sekitar 65-70 g gula.
Menurut Johanes, penambahan glukosa, fruktosa, alias sukrosa pada produk berbasis kurma bermaksud untuk meningkatkan rasa manis.
Tingkat kemanisan setiap jenis gula berbeda. Jika rasa manis sukrosa dianggap 1, maka fruktosa mempunyai tingkat kemanisan sekitar 1,2 hingga 1,8. Sementara glukosa hanya sekitar 0,7 hingga 0,75.
"Penambahan fruktosa sedikit saja sudah membikin rasa manis lebih kuat. Itu sebabnya jarang orang menggunakan glukosa sebagai pemanis minuman," jelasnya.
Meski kandungan gula alami kurma tinggi, kurma juga kaya serat pangan dan mineral. Serat tersebut membantu memperlambat penyerapan gula dalam tubuh dibandingkan gula tambahan seperti gula pasir alias sirup. Karena itu, rasa manis kurma kerap terasa tidak sekuat gula pasir.
Dalam praktik industri, produsen makanan dan minuman terkadang mencampurkan kurma dan gula dengan komparasi tertentu, misalnya 1:1, untuk mencapai tingkat kemanisan nan diinginkan sekaligus menekan biaya produksi.
"Pencampuran gula dan kurma dalam proses pembuatan makanan dan minuman bermaksud untuk meningkatkan untung lantaran nilai kurma lebih mahal dibandingkan gula," kata Johanes.
Meski demikian, dia menyebut kurma utuh nan di jual di pasaran umumnya tidak dicampur pemanis tambahan seperti glukosa.
Bagaimana patokan pencantuman label?
Johanes menegaskan bahwa komposisi bahan dalam produk pangan bungkusan wajib dicantumkan secara jelas.
"Komposisi bahan makanan dan minuman dalam bungkusan wajib dicantumkan pada bungkusan produk. Aturan penulisan dimulai dari komponen utama lampau diikuti dengan komponen lain nan lebih mini hingga nan paling sedikit," ujarnya.
Dalam Peraturan BPOM Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pengawasan Klaim pada Label dan Iklan Pangan Olahan, disebutkan bahwa buah dalam bungkusan merupakan produk nan dapat dikemas dengan medium tertentu, seperti air alias saribuah buah, dengan alias tanpa penambahan gula, serta diproses melalui pasteurisasi alias sterilisasi.
Hal ini berfaedah penambahan gula pada buah dalam bungkusan dimungkinkan, selama dicantumkan secara jelas dalam komposisi produk. Ketentuan tersebut juga mengatur bahwa berat tuntas buah dalam bungkusan tidak kurang dari 40 persen.
Risiko jika dikonsumsi berlebihan
Konsumsi gula berlebihan, baik dari kurma maupun gula tambahan tetap berisiko bagi kesehatan.
Johanes mengingatkan bahwa asupan gula nan tinggi dapat meningkatkan kalori dari karbohidrat. Dalam jangka panjang, konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan akibat obesitas beserta komplikasinya, seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Konsumsi gula berlebih juga dapat meningkatkan kadar trigliserida dan masam urat.
Karena itu, saat berbuka puasa, konsumsi kurma sebaiknya tetap dalam pemisah wajar.
"Secukupnya saja, satu sampai tiga butir kurma tergantung ukurannya, jangan berlebihan," tutupnya.
Pada akhirnya, kurma tetap menjadi sumber daya nan baik, terutama saat berbuka puasa. Namun, seperti halnya makanan manis lainnya, konsumsi nan bijak tetap menjadi kunci untuk menjaga kesehatan.
(anm/asr)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·