slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

9 Kebiasaan Ini Bisa Rusak Pendengaran, Ada Yang Sering Kamu Lakukan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

CNN Indonesia

Jumat, 06 Feb 2026 08:30 WIB

Sejumlah kebiasaan nan kerap dianggap sepele rupanya dapat berakibat serius pada kesehatan pendengaran. Berikut beberapa kebiasaan nan merusak pendengaran. Ilustrasi. Ada beberapa kebiasaan nan merusak pendengaran. (iStock/franz12)

Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah kebiasaan nan kerap dianggap sepele rupanya dapat berakibat serius pada kesehatan pendengaran. Berikut beberapa kebiasaan nan merusak pendengaran.

Organ pendengaran punya peran krusial untuk berkomunikasi. Jika pendengaran rusak, bukan tak mungkin komunikasi jadi sedikit terhambat.

Sama seperti organ tubuh lainnya, kesehatan telinga dan pendengaran juga dipengaruhi oleh beragam faktor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kebiasaan nan merusak pendengaran

Paparan bunyi keras secara berulang, baik melalui earphone, menghadiri konser, hingga lingkungan sekitar dapat menjadi penyebab seseorang mengalami gangguan pendengaran.

Namun, beragam studi menunjukkan, kebiasaan sehari-hari ini bisa berakibat serius pada kesehatan pendengaran, apalagi sejak usia muda.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 50 persen orang berumur 12-35 tahun berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat paparan bunyi keras nan berlebihan, terutama dari perangkat audio pribadi.

Merangkum dari beragam sumber, berikut sejumlah kebiasaan jelek nan dapat merusak pendengaran.

1. Mendengarkan musik terlalu keras dengan earphone

Penggunaan earphone alias earbuds dengan volume tinggi menjadi salah satu penyumbang utama gangguan pendengaran pada anak muda.

Banyak perangkat audio pribadi bisa menghasilkan bunyi hingga lebih dari 100 desibel. Paparan bunyi di atas 70 desibel dalam waktu lama dapat merusak sel-sel rambut di telinga bagian dalam. Risiko meningkat jika volume tinggi digunakan selama berjam-jam setiap hari.

Kamu disarankan batasi penggunaan earphone. Jangan melampaui 60 persen volume maksimum selama 60 menit setiap kali menggunakan earphone.

2. Menyetel audio mobil terlalu kencang

Stereo mobil dapat menghasilkan bunyi hingga 100-140 desibel, terutama saat volume diputar maksimal. Ruang mobil nan tertutup membikin bunyi semakin terpantul dan terasa lebih keras.

Jika kudu berteriak untuk berbincang dengan penumpang lain, itu pertanda volume sudah berada di level rawan bagi telinga.

3. Tidak menggunakan pelindung telinga di lingkungan nan berisik

Ilustrasi konser musikIlustrasi. Tidak menggunakan pelindung telinga saat ngonser, salah satu kebiasaan nan merusak telinga. (Yvette de Wit/Unsplash)

Mesin pemotong rumput, gergaji listrik, leaf blower, konser musik, klub malam, hingga perangkat bangunan dapat menghasilkan bunyi di atas pemisah aman.

Tingkat kebisingannya bisa di atas 110 desibel. Pada level ini, kerusakan telinga bisa terjadi hanya dalam hitungan menit. Telinga berdenging setelah konser merupakan tanda awal stres pada sistem pendengaran.

Tanpa penggunaan pelindung telinga seperti earplug alias earmuff, paparan berulang dapat menyebabkan noise-induced hearing loss nan berkarakter permanen.

4. Penggunaan earbud terus menerus

Bukan hanya soal volume suara, tetapi juga lama dan jaraknya. Banyak earbud nirkabel terpasang jauh di dalam saluran telinga, memerangkap suara, dan membikin pendengaran terus menerus terpapar selama berjam-jam.

Dengan waktu mendengarkan nan lama dan tanpa gangguan meningkatkan kelelahan pendengaran. Kebiasaan ini mempercepat penurunan kegunaan pendengaran, terutama pada usia produktif.

Simak kebiasaan nan merusak pendengaran lainnya di laman berikutnya..


Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru