Jakarta, CNN Indonesia --
Di kembali gemerlap Dubai, Uni Emirat Arab (UAE) sebagai pusat upaya dunia, nama Abdulla Al Futtaim berdiri sebagai salah satu penggerak utamanya.
Ia adalah tokoh kunci Al Futtaim Group, konglomerasi upaya keluarga. Gurita upaya grup ini meliputi otomotif, ritel, properti, jasa keuangan, jasa kesehatan hingga pendidikan.
Kini, perusahaan mempekerjakan sekitar 42 ribu orang dan beraksi melalui lebih dari 200 merek di lebih dari 20 negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam beberapa tahun terakhir, grup ini secara signifikan memperluas operasinya melalui strategi akuisisi dan memasuki sejumlah wilayah baru, memperluas jangkauan dari area Teluk merambah ke Asia Tenggara, Asia Utara, Australasia, Afrika Timur hingga Eropa.
Ada lima bagian utama Grup
1. Otomotif
Distributor eksklusif di UAE untuk merek Toyota, Lexus, Honda, Volvo, RAM Trucks
2. Jasa keuangan
Al Futtaim Finance: perusahaan pembiayaan
3. Properti
Mengembangkan area terpadu, misalnya Dubai Festival City, Dubai Festival Plaza, Doha Festival City dan Cairo Festival City.
4. Ritel
Pemegang merek IKEA, Marks & Spencer, Toys "R" Us, ACE Hardware dan H&M
5. Kesehatan
Al-Futtaim Health (klinik kesehatan di UAE).
Divisi otomotif merupakan motor penggerak utama upaya grup, sekaligus penyumbang terbesar pundi-pundi duit Abdulla, nan yang menjadikannya salah satu orang terkaya di Timur Tengah. Forbes menaksir kekayaan Abdulla mencapai US$4,7 miliar alias setara Rp80,3 triliun (asumsi kurs Rp17.089 per dolar AS).
Abdulla lahir pada Januari 1940 di Dubai, UAE, dalam family pedagang nan cukup terkemuka. Di masa tersebut, Dubai tetap sekadar kota pelabuhan, sebelum era minyak. Ekonomi lokal bertumpu pada penyelaman mutiara dan perdagangan maritim.
Namun, industri mutiara meredup pada 1930-an dipicu oleh munculnya mutiara budi daya secara dunia sehingga mendorong penduduk Dubai banting stir menjadi berbisnis produk tekstil, rempah hingga emas.
Sejak dini, Abdulla mengenal praktik perdagangan tradisional Emirat melalui aktivitas keluarganya. Ia juga menyaksikan transformasi Dubai dari pos jual beli sederhana menjadi pusat ekonomi global.
Kakeknya, Hamad Al Futtaim, mendirikan upaya awal keluarga, Al Futtaim, pada tahun 1930-an nan berfokus pada impor, ekspor, penangkapan karang, dan jasa transportasi haji.
Abdulla masuk ke upaya family saat berumur 15 tahun pada 1955. Di usia sangat muda, dia sukses memperoleh kewenangan pengedaran eksklusif Toyota di UAE.
Ia pun melanjutkan warisan perdagangan family dengan membantu mengarahkan upaya Al Futtaim ke impor otomotif, memanfaatkan kesempatan ekonomi baru di era pasca penemuan minyak. Dengan terjun langsung sejak muda, Abdulla berkontribusi pada transformasi dari perdagangan umum menjadi pengedaran kendaraan nan lebih spesialis.
Pada akhir 1970-an, Abdulla mendorong ekspansi internasional dengan menjembatani kesepakatan antara Toyota dan pemerintah Mesir, nan memungkinkan berdirinya Toyota Egypt pada 1979. Langkah ini menjadi awal internasionalisasi upaya otomotif grup.
Memasuki 1990-an, Al Futtaim mulai konsentrasi pada diversifikasi ritel. Salah satu tonggak krusial adalah pembukaan toko IKEA pertama di Dubai pada 1991 di area Karama, UAE.
Pada periode ini, grup juga menjalin kerja sama dengan merek seperti Toys "R" Us dan Marks & Spencer, memperluas upaya ke sektor style hidup dan hiburan.
Menjelang akhir 1990-an, Al-Futtaim mengembangkan upaya ke beragam sektor, termasuk properti melalui pembangunan pusat perbelanjaan, jasa keuangan, jasa kesehatan. Al Futtaim juga menyasar sektor pendidikan melalui pendirian Al-Futtaim Automotive Academy. Berbagai ekspansi tersebut mendorong operasional Al Futtaim Group ke lebih dari 20 negara di Timur Tengah, Asia, dan wilayah lainnya.
Abdulla pun mengambil alih kepemilikan dan kepemimpinan Al Futtaim Group, mengubahnya dari perusahaan jual beli menjadi konglomerasi multibisnis nan mencakup otomotif, ritel, properti, dan jasa keuangan.
Namun pada 2000, family Al Futtaim membagi upaya untuk meningkatkan konsentrasi dan efisiensi. Abdulla mempertahankan upaya otomotif dan ritel, sementara sepupunya, Majid Al Futtaim, mengambil alih sektor properti, rekreasi, dan hiburan. Pemisahan ini dimediasi oleh Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum.
Untuk menjaga kesinambungan upaya keluarga, Abdulla menunjuk putranya, Omar Al Futtaim, sebagai wakil ketua dan CEO pada 2001 hingga saat ini.
Omar sekarang memimpin operasional harian dan strategi pertumbuhan, sementara Abdulla tetap menjadi ketua dan pemilik utama.
Kehidupan taipan otomotif Dubai ini tak terlalu banyak nan bisa digali. Abdulla diketahui menikah dengan Shaikha Mohammed Al Futtaim, nan mendampinginya dalam perjalanan upaya keluarga. Shaikha wafat pada Maret 2023.
Pasangan ini mempunyai lima anak, termasuk Omar Abdulla Al Futtaim, nan sekarang menjabat sebagai wakil ketua dan CEO Al Futtaim Group.
Keluarga Al Futtaim menetap di Dubai dan dikenal menjaga privasi, sembari melanjutkan warisan upaya lintas generasi.
[Gambas:Video CNN]
(pta)
Add
as a preferred source on Google
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·