CNN Indonesia
Senin, 20 Apr 2026 13:30 WIB
Ilustrasi. Tak hanya serang di usia lanjut, sekarang glukosuria bisa serang anak muda termasuk remaja. (Zeyra Haya)
Jakarta, CNN Indonesia --
Diabetes tak lagi identik dengan usia lanjut. Kini, penyakit nan selama ini kerap dikaitkan dengan orang berumur 50 tahun ke atas itu mulai bergeser ke golongan nan jauh lebih muda, apalagi remaja.
Ketua Umum PB PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), Em Yunir, mengungkapkan bahwa kasus glukosuria sekarang sudah mulai ditemukan pada usia belasan tahun. nan mengkhawatirkan, kasus tersebut bukan hanya glukosuria jenis 1 nan memang lebih dulu dikenal menyerang anak, tetapi juga glukosuria melitus jenis 2.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang ini umur 20 tahun, sudah ada nan diabetes. Ada nan lebih ekstrem lagi umur di masa usia anak-anak, umur 10, 12, itu ada satu, dua. Nanti menjelang ke 16 tahun makin banyak," ujar Em Yunir dalam obrolan media berbareng Kalbe, Jakarta, Jumat (17/4).
Pergeseran usia pasien ini, kata dia, juga sudah mulai terlihat pada jasa kesehatan anak, lampau bersambung masuk ke jasa penyakit dalam ketika pasien beranjak dewasa.
Kenapa anak muda termasuk remaja bisa kena diabetes? Em Yunir menekankan bahwa salah satu pemicu paling krusial adalah kelebihan asupan kalori nan tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh.
"Kalau makan, jika banyak kebutuhan sehari hanya 1.500 kalori, terus dia makan 2.500 kalori, artinya kelebihan. Jadi jika kelebihan seperti itu nan 1.000 kalori itu ditumpuk. Nah ini adalah awal memicu sebenarnya diabetes," jelasnya.
Ia menambahkan kelebihan berat badan bukan sekadar masalah penampilan, tetapi berangkaian langsung dengan akibat glukosuria jenis 2. Menurutnya, timbunan lemak berlebih bisa memicu peradangan alias inflamasi dalam tubuh. Inflamasi inilah nan kemudian ikut mendorong terjadinya diabetes.
Anak dan remaja masa sekarang menjadi lebih rentan lantaran pola makan berlebih, asupan gula dan kalori nan tinggi, serta kenaikan berat badan nan terjadi sejak usia muda.
Selain itu, Em Yunir juga menyoroti peran berat badan. Menurutnya, dugaan bahwa glukosuria lebih rentan terjadi pada orang dengan berat badan berlebih memang ada benarnya, meski penyakit ini tidak bisa dijelaskan sesederhana itu.
"Diabetes hanya diderita oleh orang dengan berat badan berlebih, itu ada benarnya," kata dia.
Tidak kudu setop gula
Meski terdengar menakutkan, Em Yunir menjelaskan bahwa glukosuria jenis 2, terutama pada tahap awal, tetap bisa dikendalikan dengan perubahan pola hidup nan tepat. Pun dalam sejumlah kasus, gula darah bisa kembali normal tanpa obat jika penanganannya dilakukan lebih awal dan konsisten.
Meski demikian dia mengingatkan bahwa kondisi itu bukan berfaedah glukosuria betul-betul lenyap selamanya. Seseorang tetap punya kerentanan untuk kembali masuk ke kondisi glukosuria jika pola hidupnya kembali memburuk.
Lantas apakah pengendalian glukosuria perlu mengeliminasi gula dari asupan harian?
Em Yunir menjelaskan gula dalam jumlah terbatas tetap bisa dikonsumsi, termasuk untuk kebutuhan memasak. nan perlu dihindari adalah konsumsi minuman dan makanan manis berlebihan, terutama minuman bergula tinggi nan sekarang makin terkenal di kalangan anak muda.
"Kalau nan suka bikin sayur pakai gula silakan, lantaran maksimal kualitas hanya 1 sendok teh untuk pemanis alias penyedap rasa silakan. Tapi nan dihindari adalah jika kita seperti minum kopi, minum teh dan sebagainya dengan sugar nan full, ya itu nan dihindari," ujarnya.
(anm/els)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·