CNN Indonesia
Rabu, 11 Mar 2026 09:00 WIB
Ilustrasi. Buah utuh alias saribuah buah kerap jadi pilihan untuk berbuka puasa alias sahur. (balt/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Buah nyaris tak pernah tidakhadir dari meja sahur maupun berbuka. Rasanya nan segar dan manis alami kerap jadi penawar dahaga setelah seharian menahan lapar dan haus.
Selain menyegarkan, buah juga kaya vitamin, mineral, serta antioksidan nan dibutuhkan tubuh selama berpuasa. Selain itu, buah juga bisa dikonsumsi dalam dua cara, ialah dimakan langsung dalam corak utuh alias diolah menjadi jus.
Lalu, saat puasa, mana nan sebenarnya lebih baik untuk tubuh?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip National Institutes of Health (NIH), proses pengolahan buah menjadi saribuah dapat mengurangi kandungan serat, vitamin, dan antioksidan. Saat buah dijus, struktur seratnya rusak sehingga gula alami nan sebelumnya terikat berubah menjadi gula bebas (free sugars).
Akibatnya, gula lebih sigap diserap tubuh dan berpotensi memicu lonjakan kadar gula darah.
Buah dalam corak utuh dinilai sebagai pilihan terbaik untuk memperoleh faedah nutrisi secara optimal, terutama dari kandungan seratnya. Serat berkedudukan krusial dalam menjaga kesehatan pencernaan, membantu rasa kenyang memperkuat lebih lama, serta mendukung pengendalian berat badan.
Tak hanya itu, serat juga memperlambat proses pengosongan lambung dan penyerapan gula. Hal ini krusial saat puasa, lantaran lonjakan gula darah nan terlalu sigap setelah berbuka dapat membikin tubuh mudah lemas dan sigap lapar kembali.
Dengan mengonsumsi buah utuh, daya dilepaskan lebih stabil sehingga tubuh terasa berkekuatan lebih lama.
Jus buah tinggi gula, rendah serat
Dilansir dari Stanford Medicine, satu gelas saribuah buah 100 persen dapat mengandung sekitar 15-30 gram gula dan 60-120 kalori, tergantung jenis buahnya. Meski tanpa tambahan gula, kandungan gula alaminya tetap tergolong tinggi.
Masalahnya, saribuah buah umumnya rendah serat. Bahkan saribuah dengan jejak pun tetap mengandung serat jauh lebih sedikit dibandingkan buah utuh. Kombinasi gula tinggi dan serat rendah ini dapat memicu lonjakan gula darah dan meningkatkan nafsu makan.
Dalam penelitian nan melibatkan nyaris 50 ribu perempuan, konsumsi satu gelas saribuah buah setiap hari dikaitkan dengan kenaikan berat badan dalam beberapa tahun. Sebaliknya, peningkatan konsumsi buah utuh justru berangkaian dengan penurunan berat badan.
Kondisi ini tentu perlu diperhatikan saat puasa. Minuman manis, termasuk jus, memang terasa menyegarkan saat berbuka, tetapi juga berpotensi membikin sigap lapar kembali.
Lalu, gimana saat Ramadhan?
Dalam pedoman menu sehat Ramadhan nan dirilis Johns Hopkins Aramco Healthcare, buah segar dianjurkan sebagai bagian dari menu sahur dan berbuka lantaran membantu hidrasi sekaligus menyediakan vitamin dan serat.
Jus buah segar tetap bisa dikonsumsi, tetapi sebaiknya dalam jumlah moderat dan tanpa tambahan gula.
Saat berbuka, tubuh memang memerlukan asupan daya cepat. Namun, memilih buah utuh sebagai camilan awal dapat membantu menjaga keseimbangan gula darah sekaligus membikin kenyang lebih lama sebelum makan utama.
Jika mau variasi, smoothie nan tetap mempertahankan jejak dan serat buah bisa menjadi pilihan nan lebih baik dibandingkan saribuah nan hanya diambil sarinya.
Baik buah utuh maupun saribuah sama-sama mempunyai faedah dan dapat menjadi bagian dari menu sahur alias berbuka. Namun, jika tujuan Anda adalah menjaga kestabilan gula darah, memperpanjang rasa kenyang, dan mengontrol berat badan selama puasa, buah utuh condong menjadi pilihan nan lebih unggul.
Memahami perbedaan keduanya membantu Anda menentukan pilihan nan paling sesuai demi menjaga daya dan kesehatan sepanjang Ramadan.
(anm/tis)
[Gambas:Video CNN]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·