Jakarta, CNN Indonesia --
Perum Bulog memastikan lonjakan harga plastik kemasan tidak bakal berakibat pada kenaikan nilai beras di dalam negeri.
Hal ini ditegaskan langsung oleh Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani di tengah meningkatnya tekanan biaya bahan baku kemasan.
"Sesuai dengan pengarahan Bapak Presiden (Prabowo Subianto). Jadi sudah ditentukan pada saat beliau mengambil rapat istana kemarin. Tidak ada kenaikan nilai pangan, termasuk nilai beras. Jadi tidak ada kenaikan nilai pangan maupun nilai beras," ujar Rizal dalam konvensi pers di Kantor Pusat Bulog, Jakarta Selatan, Senin (13/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rizal menambahkan persediaan beras nasional saat ini berada dalam kondisi nan sangat kuat, sehingga pihaknya meyakini tak bakal terjadi kenaikan nilai pangan, khususnya beras bagi masyarakat Indonesia.
Ia mengakui kenaikan nilai plastik menjadi tantangan tersendiri bagi Bulog, terutama dalam pengemasan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan support pangan. Menurutnya, kondisi ini juga menjadi persoalan berbareng di beragam sektor.
"Kemasan ini juga menjadi rumor common enemy kami juga istilahnya, ,enjadi persoalan berbareng khususnya nan menggunakan plastik-plastik kemasan," tutur dia.
"Kami kemarin sudah melakukan rapat dewan juga, sudah mengambil kebijakan-kebijakan dan memberikan ruang-ruang unik lantaran memang kondisinya juga memang kudu mengikuti pasar nan ada di daerah," tambah Rizal lebih lanjut.
Rizal menjelaskan Bulog telah mengambil langkah antisipatif dengan berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk menjaga biaya bungkusan tetap terkendali, mengingat produk nan dikemas sebagian besar ditujukan untuk kebutuhan masyarakat.
"Mudah-mudahan kita diberikan nilai nan terbaik dengan nilai nan paling rendah. Namun, tidak mengurangi ataupun menurunkan kualitas dari bungkusan tersebut. Harapannya seperti itu buat demikian," ujarnya.
Di sisi lain, Bulog juga telah menyesuaikan komponen biaya internal untuk menekan akibat kenaikan nilai plastik terhadap operasional.
"Kami kemarin sudah rapat direksi. Jadi HPS (harga perkiraan sendiri)-nya disesuaikan dengan kondisi seperti itu. Namun dengan nilai nan betul-betul, nan seminimal mungkin untuk menekan supaya cost-nya tidak terlalu tinggi," kata Rizal.
Kenaikan nilai plastik terjadi akibat gangguan pasokan global, termasuk dari area Timur Tengah nan menjadi pemasok utama bahan baku.
Kondisi ini mendorong nilai plastik naik signifikan di pasar dan mulai dirasakan pelaku industri dalam negeri.
Sejumlah pelaku upaya menyebut nilai plastik di tingkat produsen naik sekitar 30 persen hingga 60 persen, apalagi di tingkat pedagang bisa melonjak hingga 100 persen akibat keterbatasan stok.
Di lapangan, kenaikan juga terlihat pada nilai eceran, misalnya plastik kantong nan naik dari Rp15 ribu menjadi Rp23 ribu, sedotan dari Rp8 ribu menjadi Rp10 ribu, hingga plastik bungkusan tertentu nan melonjak dari Rp36 ribu menjadi Rp60 ribu per pak.
Keterbatasan pasokan juga membikin sejumlah peralatan susah ditemukan di pasaran. Kondisi ini dinilai berpotensi mendorong kenaikan nilai produk bungkusan serta mengganggu pengedaran pangan jika tidak segera diatasi.
[Gambas:Youtube]
(del/sfr)
Add
as a preferred source on Google
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·