Jakarta, CNN Indonesia --
Harga minyak dunia kembali melonjak pada Kamis (30/4) di tengah kekhawatiran pasokan dari Timur Tengah bakal tertahan lebih lama. Kondisi ini dipicu kebuntuan negosiasi untuk mengakhiri perang antara Iran melawan agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Mengutip Reuters, nilai minyak mentah Brent perjanjian Juni naik US$1,91 alias 1,62 persen menjadi US$119,94 per barel. Kontrak ini mencatat kenaikan selama sembilan hari berturut-turut. Sementara perjanjian Juli nan lebih aktif naik 0,85 persen ke US$111,38 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) perjanjian Juni naik 63 sen alias 0,59 persen menjadi US$107,51 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah WTI melonjak 7 persen pada sesi sebelumnya dan menguat dalam delapan dari sembilan hari terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan nilai minyak terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbincang dengan perusahaan minyak mengenai akibat blokade terhadap Iran. Seorang pejabat Gedung Putih menyebut pembicaraan itu membahas kemungkinan blokade pelabuhan Iran nan berjalan selama berbulan-bulan.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran pasar bakal gangguan pasokan minyak nan berkepanjangan. Pelaku pasar menilai blokade ini dapat semakin memperketat suplai daya global.
Analis pasar IG, Tony Sycamore mengatakan kesempatan penyelesaian bentrok dalam waktu dekat tetap kecil.
"Prospek penyelesaian bentrok Iran alias pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat tetap suram," ujarnya.
Kebuntuan ini terjadi setelah upaya diplomasi untuk mengakhiri bentrok tidak membuahkan hasil. Perang nan berjalan sejak akhir Februari tersebut telah menewaskan ribuan orang dan memicu gangguan daya terbesar di bumi menurut analis.
Di sisi pasokan, golongan produsen minyak OPEC+ diperkirakan bakal menyepakati kenaikan produksi terbatas. Sumber Reuters menyebut peningkatan kuota kemungkinan hanya sekitar 188 ribu barel per hari.
Pertemuan ini berjalan setelah Uni Emirat Arab memutuskan keluar dari OPEC mulai 1 Mei. Langkah tersebut dinilai dapat melemahkan keahlian organisasi dalam mengendalikan nilai minyak global.
Analis Wood Mackenzie memperkirakan negara-negara Teluk memerlukan waktu untuk memulihkan produksi.
"Negara-negara Teluk, termasuk UEA, bakal memerlukan waktu berbulan-bulan untuk kembali ke volume produksi sebelum perang," tulis mereka dalam catatan riset.
[Gambas:Youtube]
(ldy/pta)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·