slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Indonesia Peringkat 5 Dunia Diabetes, Banyak Tak Sadar Sudah Sakit

Sedang Trending 2 hari yang lalu

CNN Indonesia

Senin, 20 Apr 2026 18:15 WIB

Indonesia berada di ranking kelima dengan penyandang glukosuria terbanyak di bumi dengan 35,4 persen nan baru terdiagnosis pada 2024. Diskusi Kolaborasi Strategis Bersama Kemenkes dan PERKENI, di Jakarta, Jumat (17/4). (CNN Indonesia/ Angela Merici)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Indonesia kini masuk lima besar negara dengan jumlah penyandang diabetes terbanyak di dunia. Angka ini bukan hanya soal peringkat, tetapi mencerminkan masalah nan lebih besar, banyak orang hidup dengan glukosuria tanpa menyadarinya.

Data International Diabetes Federation (IDF) 2025 mencatat, sekitar 20,4 juta masyarakat Indonesia usia 20-79 tahun hidup dengan diabetes. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi kelima dunia, di bawah China, India, Amerika Serikat, dan Pakistan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, tren penyakit ini terus meningkat. Bahkan, secara dunia jumlah penyandang glukosuria diperkirakan mencapai 589 juta orang alias sekitar 11,1 persen populasi dunia.

Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, master Siti Nadia Tarmizi, menyebut banyak kasus glukosuria di Indonesia belum terdiagnosis.

"Permasalahannya, nan belum didiagnosis tetap banyak. Padahal, glukosuria melitus (DM) juga menjadi penyebab disabilitas. Jadi, kita jangan berpikir bahwa sakit DM itu tenang-tenang saja," ujarnya dalam obrolan Kolaborasi Strategis Bersama Kemenkes dan PERKENI, di Jakarta, Jumat (17/4).

Menurut Nadia, glukosuria sering dianggap sepele lantaran gejalanya tidak selalu terasa di awal. Padahal, dampaknya bisa serius jika tidak ditangani.

"Kadar gula nan tinggi di dalam pembuluh darah itu menyebabkan luka-luka dari pembuluh darah, ya, sehingga kita tahu sebagai persoalan mikrovaskuler," katanya.

Kerusakan pembuluh darah ini kemudian bisa berakibat ke beragam organ tubuh, mulai dari ginjal, mata, hingga jantung.

Banyak belum sadar, hanya sedikit nan terkontrol

Data menunjukkan, persoalan glukosuria di Indonesia bukan hanya soal jumlah kasus, tetapi juga soal pengelolaan.

Dari total kasus glukosuria 2024, hanya sekitar 35,4 persen nan terdiagnosis oleh tenaga kesehatan. Artinya, jutaan orang hidup dengan kondisi ini tanpa mengetahui status kesehatannya.

Bahkan info dari mereka nan sudah terdiagnosis, baru sekitar 68,1 persen mendapatkan pengobatan. Hanya sekitar 20,2 persen nan betul-betul sukses mengendalikan penyakitnya.

Angka ini menggambarkan glukosuria tidak hanya masalah medis, tetapi juga masalah kesadaran dan perilaku.

Gaya hidup jadi pemicu utama

Nadia menegaskan, glukosuria termasuk penyakit tidak menular nan sangat dipengaruhi oleh style hidup.

"Kalau penyakit tidak menular itu jarang umumnya kita langsung dapat pada usia muda, tapi lantaran perilaku nan tidak betul itu nan kemudian bergeser," ujarnya.

Ia menyebut beberapa aspek akibat utama, seperti pola makan tinggi gula, garam, dan lemak, kurang aktivitas fisik, hingga kebiasaan merokok.

Salah satu nan paling disorot, ialah konsumsi minuman manis nan terus meningkat, terutama di kalangan anak muda.

"Fakta nyata, kan minuman manis nan berkemasan maupun nan siap saji itu terus-menerus meningkat. Siapa nan tidak kenal dengan beragam jenis kopi, beragam jenis boba, beragam jenis teh," kata Nadia.

Fenomena ini makin diperparah dengan kebiasaan konsumsi tinggi gula dalam satu waktu.

[Gambas:Video CNN]

Risiko komplikasi dan beban biaya

Selain jumlah kasus nan besar, glukosuria juga membawa akibat serius dalam jangka panjang.

Penyakit ini menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia, berbareng stroke, penyakit jantung, dan sirosis. Bahkan, glukosuria juga berangkaian erat dengan peningkatan kasus penyakit ginjal.

"Orang-orang glukosuria melitus itu condong jika glukosuria melitus-nya tidak benar, dia berasanya sakit ginjal," kata Nadia.

Dari sisi pembiayaan, beban nan ditimbulkan juga tidak kecil. Data menunjukkan, biaya penanganan penyakit mengenai diabetes, seperti kandas ginjal, meningkat hingga 478 persen dalam tujuh tahun terakhir.

Melihat tren ini, glukosuria tidak lagi bisa dipandang sebagai penyakit perseorangan semata. Ini adalah masalah kesehatan masyarakat nan berangkaian erat dengan pola hidup sehari-hari.

Nadia menekankan pentingnya perubahan perilaku sebagai kunci pencegahan. Mulai dari mengurangi konsumsi gula, meningkatkan aktivitas fisik, hingga rutin memeriksa kesehatan menjadi langkah sederhana nan bisa berakibat besar.

Seperti nan terlihat dari data, masalah terbesar bukan hanya pada jumlah penderita, tetapi pada mereka nan tidak sadar sedang sakit.

(anm/rti)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru