CNN Indonesia
Kamis, 23 Apr 2026 14:30 WIB
Ilustrasi. Selingkuh memang bisa dipengaruhi genetik. (iStockphoto/1001nights)
Jakarta, CNN Indonesia --
Perselingkuhan kerap dipandang sebagai persoalan moral, komitmen, alias masalah dalam hubungan. Namun belakangan, muncul dugaan nan terdengar lebih ilmiah, selingkuh disebut-sebut sebagai bawaan genetik.
Gagasan ini memang terdengar meyakinkan, apalagi jika dikaitkan dengan istilah seperti hormon, dopamin, alias gen tertentu. Tapi, benarkah seseorang bisa berselingkuh lantaran aspek gen?
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jawabannya tidak sesederhana itu. Hingga kini, belum ada bukti kuat nan menyatakan bahwa perselingkuhan ditentukan langsung oleh gen. nan lebih banyak ditemukan justru pengaruh biologis terhadap sifat alias kecenderungan tertentu dalam membangun dan menjaga hubungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berperan, tapi bukan penentu
Salah satu studi nan dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology membahas ragam gen AVPR1A RS3, bagian dari sistem biologis nan berangkaian dengan hormon vasopresin. Hormon ini diketahui berkedudukan dalam ikatan sosial, kedekatan emosional, serta proses membangun relasi.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa aspek genetik dapat memengaruhi relationship maintenance processes, seperti komitmen, kedekatan, dan stabilitas hubungan. Namun, perihal ini tidak berfaedah gen tertentu membikin seseorang pasti berselingkuh.
Penjelasan lain datang dari kajian The Molecular Basis of Love, nan menguraikan langkah kerja otak dan hormon dalam proses jatuh cinta hingga membangun hubungan jangka panjang.
Dalam kajian ini disebutkan bahwa unsur kimia seperti dopamin, oksitosin, vasopresin, dan serotonin berkedudukan dalam ketertarikan, keterikatan emosional, hingga relasi jangka panjang.
Sistem ini memengaruhi gimana seseorang merasa dekat, terhubung, alias justru menjaga jarak dalam hubungan.
Melansir jurnal Love and Infidelity: Causes and Consequences, perselingkuhan merupakan kejadian multifaktor. Keputusan untuk berselingkuh dipengaruhi oleh beragam hal, antara lain kepuasan dalam hubungan, komunikasi dengan pasangan, nilai dan prinsip pribadi, kesempatan, hingga aspek sosial dan lingkungan.
Meski tidak ada 'gen selingkuh', beberapa aspek biologis memang bisa memengaruhi kecenderungan tertentu, seperti dorongan mencari sensasi (sensation-seeking), keterbukaan terhadap hubungan tanpa komitmen kuat (sociosexuality), serta keahlian membangun dan mempertahankan ikatan emosional.
Faktor-faktor tersebut dapat membikin seseorang lebih rentan alias justru lebih kuat dalam menjaga hubungan. Namun, semuanya bukan penentu akhir.
Perselingkuhan merupakan hasil dari kombinasi banyak faktor, mulai dari kondisi psikologis, kualitas relasi, hingga lingkungan sosial. Meski ada pengaruh biologis, keputusan untuk setia alias tidak tetap berada pada individu.
(anm/tis)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·