CNN Indonesia
Rabu, 25 Feb 2026 10:00 WIB
Ilustrasi. Dalam situasi tertentu, kehamilan ibu di atas usia 40 tahun dapat menimbulkan akibat serius. Ketahui kondisi kehamilan nan tak disarankan. (iStockphoto/Satoshi-K)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kehamilan di usia 40-an tidak selalu dapat dijalani dengan aman, terutama jika disertai kondisi medis tertentu nan berat.
Dalam situasi tertentu, kehamilan justru dapat menimbulkan akibat serius hingga menakut-nakuti nyawa ibu sehingga secara medis tidak disarankan untuk dilanjutkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter ahli kandungan Andon Hestiantoro menegaskan bahwa tidak semua wanita usia 40-an berada dalam kondisi kesehatan nan memungkinkan untuk hamil.
Beberapa penyakit kronis dan gangguan organ membikin tubuh tidak bisa beradaptasi dengan perubahan besar selama kehamilan.
"Ada kondisi nan sangat membahayakan nyawa ibu sehingga kehamilan sangat tidak disarankan," ujar Andon saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (20/1).
Salah satu kondisi tersebut adalah penyakit jantung alias paru berat. Kehamilan meningkatkan volume darah dan beban kerja jantung.
Pada wanita dengan gangguan jantung berat alias hipertensi pulmonal, kondisi ini dapat memicu kandas jantung dan meningkatkan akibat kematian ibu.
Mengutip Cleveland Clinic, mempunyai penyakit jantung bawaan juga berisiko lebih tinggi untuk lahir prematur. Wanita dengan kondisi mempunyai komplikasi kehamilan nan lebih tinggi.
Selain itu, kandas ginjal kronis juga menjadi kondisi nan sangat berisiko. Kondisi ginjal nan sudah menurun drastis terutama pada pasien nan memerlukan cuci darah.
Andon menambahkan, kondisi medis lain nan membikin kehamilan tidak dianjurkan adalah kanker aktif nan sedang menjalani pengobatan. Terapi kanker dapat membahayakan kesehatan ibu sekaligus mengganggu tumbuh kembang janin.
Melansir Cancer Center, paparan terapi radiasi pada ibu mengandung dapat menyebabkan abnormal lahir seperti kemandulan, katarak, hingga kematian.
Pengobatan kemoterapi nan diberikan pada trimester pertama dapat memengaruhi mata, telinga, sistem peredaran darah bayi, serta berakibat pada pertumbuhan janin.
Riwayat komplikasi kehamilan berat sebelumnya juga menjadi pertimbangan penting. Perempuan nan pernah mengalami perdarahan dahsyat alias plasenta akreta mempunyai akibat tinggi mengalami komplikasi serupa pada kehamilan berikutnya.
"Pada kasus seperti itu, master bakal menjelaskan akibat mortalitas nan tinggi dan menyarankan pengganti lain misal mengambil alias surogasi," kata Andon.
Kondisi lain nan termasuk rawan adalah sirosis hati berat. Gangguan kegunaan hati dapat menyebabkan masalah pembekuan darah dan meningkatkan akibat perdarahan selama kehamilan maupun persalinan.
Menukil dari Biology Insights, penyakit hati stadium lanjut sering mengganggu keseimbangan hormonal nan diperlukan untuk ovulasi dan menstruasi. Gangguan hormonal sering kali mengakibatkan amenore (tidak adanya menstruasi alias oligomenore (menstruasi tidak teratur alias jarang).
Beberapa wanita dengan sirosis nan menunggu transplantasi hati mengalami gangguan menstruasi nan menurunkan kemungkinan hamil. Pada kondisi ini kesuburan diperkirakan berkurang sekitar 40 persen pada orang dengan sirosis.
Dalam kondisi-kondisi tersebut, kehamilan umumnya tidak direkomendasikan lantaran akibat nan dihadapi ibu jauh lebih besar dibandingkan manfaatnya. Konsultasi medis menjadi langkah krusial agar wanita dan pasangan memahami akibat medis secara menyeluruh.
Kehamilan di usia 40-an memang semakin sering terjadi di masa sekarang. Namun master menekankan bahwa keputusan untuk mengandung kudu didasarkan pada kesiapan kesehatan bukan sekadar keinginan.
Keselamatan ibu tetap menjadi prioritas utama dalam setiap perencanaan kehamilan, terutama pada usia dan kondisi kesehatan nan berisiko tinggi.
(nga/fef)
[Gambas:Video CNN]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·