Jakarta, CNN Indonesia --
Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Pdt. Jacky Manuputty beranggapan pernyataan Jusuf Kalla nan menyinggung bentrok Poso dan Ambon sebagai contoh kepercayaan menjadi dalih nan mudah digunakan membenarkan kekerasan tak sepenuhnya keliru.
Pernyataan Jusuf Kalla dalam public lecture di UGM pada 5 Maret 2026 itu dilaporkan ke pihak kepolisian atas dugaan penistaan aliran Kristen.Pelaporan itu dilayangkan DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dan sejumlah organisasi lain.
"Pernyataan ini, jika dibaca dalam konteks sejarah bentrok Poso dan Maluku, tidak sepenuhnya keliru. Kita tidak dapat menutup mata bahwa pada masa itu kepercayaan memang tampil dengan wajah nan terdistorsi," kata Jacky dalam keterangannya, dikutip Rabu (15/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jacky nan juga personil delegasi Kristen pada perjanjian Malino II untuk rekonsiliasi bentrok Maluku mengaku mengalami langsung dinamika bentrok itu.
Ia menyaksikan langsung gimana legitimasi religius, doa, kidung rohani, hingga pemberkatan tokoh kepercayaan sering menjadi prasyarat sebelum kombatan turun ke medan konflik.
"Kata Shalom nan berarti tenteram apalagi kerap dipekikkan sebagai penyemangat di organisasi Kristen sebelum menuju ke area bentrokan," ucap dia.
Ia pun menyebut bentrok nan sebetulnya berakar pada ketidakadilan sosial dan politik dipersepsikan sebagai 'konflik agama', sehingga kekerasan memperoleh aura moral dan sakral.
Jacky menyampaikan pengalaman bentrok Poso dan Ambon menjadi pembelajaran bagi bahwa kepercayaan dapat menjadi korban dari situasi sosial-politik nan memburuk.
Menurutnya, ketika ketidakadilan, ketakutan, dan trauma kolektif berjumpa dengan simbol-simbol religius, maka makna suci dapat bergeser menjadi pembenaran destruktif.
"Pernyataan Jusuf Kalla membuka ruang refleksi nan perlu kita rawat. Bukan untuk menyalahkan agama, tetapi untuk memahami gimana kepercayaan dapat diselewengkan dalam situasi konflik," ucapnya.
Meski begitu, Jacky menyebut ada bagian dari pernyataan JK nan perlu diluruskan, terutama menyamakan konsep 'syahid' dalam Islam dengan Kristen sebagai legitimasi untuk saling membunuh.
Ia menjelaskan dalam tradisi Kristen, tidak ada doktrin nan menyatakan bahwa membunuh orang lain dapat menghasilkan status kesyahidan. Istilah nan kerap digunakan dalam organisasi Kristen adalah 'martir', nan berfaedah kesediaan untuk menderita dan meninggal demi mempertahankan iman, bukan meninggal saat melakukan serangan.
"Memang betul bahwa dalam konteks bentrok Maluku, istilah "martir" mengalami pergeseran makna. Seorang Kristen nan meninggal dalam tindakan agresi kerap disebut sebagai martir. Ini bukan aliran gereja, melainkan distorsi makna nan muncul dalam situasi konflik," ujar dia.
Jacky pun beranggapan kejadian itu menunjukkan ketika identitas kolektif terancam, makanbahasa religius dapat bergeser jadi perangkat pembenaran kekerasan.
Selain itu, Jacky juga menyinggung banyak kajian akademik nan telah lama mengingatkan ihwal potensi koruptif kepercayaan dalam situasi konflik.
Ia beranggapan jika berangkat dari perspektif itu, pernyataan JK tentang mudahnya kepercayaan digunakan sebagai argumen bentrok mempunyai dasar nan kuat.
Namun, dia tetap menyatakan penyamaan konsep kesyahidan dalam Islam dan Kristen sebagai legitimasi untuk membunuh merupakan penyederhanaan nan tidak tepat secara teologis.
"Yang terjadi di lapangan bukanlah aliran kepercayaan nan mendorong kekerasan, melainkan penyimpangan makna kepercayaan oleh para tokoh nan terlibat dalam konflik," ucapnya.
Terpisah, Juru Bicara JK, Husain Abdullah juga telah membantah dugaan penistaan aliran Kristen sebagaimana nan dilayangkanDPP GAMKI dan sejumlah organisasi lain.
Husain menyebut postingan video nan viral di media sosial kehilangan konteks utuhnya. Video dimaksud berisi pernyataan JK nan menyebut kedua belah pihak dalam bentrok Poso dan Ambon dengan istilah 'mati syahid'.
"Setelah ditelusuri, tuduhan itu merupakan hasil pemotongan konteks (context cutting). Kami membantah dengan tegas tuduhan itu," ujar Husain saat dikonfirmasi melalui pesan tertulis, Minggu (12/4) malam.
Husain menjelaskan pernyataan JK itu justru menegaskan bahwa tak ada satupun kepercayaan di bumi nan mengajarkan umatnya untuk saling membunuh.
"Pandangan keliru kedua pihak inilah nan terlebih dulu diluruskan Pak JK bahwa tidak ada satu pun kepercayaan nan membolehkan untuk saling membunuh. Ini disampaikan kepada para panglima perangnya saat itu," ujarnya.
(mnf/ugo)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·