Jakarta, CNN Indonesia --
Kontribusi industri manufaktur terhadap perekonomian nasional terus menunjukkan tren positif.
Tren terlihat dari info nan diubah metodologi dalam penghitungan Produk Domestik Bruto (PDB).
Perubahan metodologi tersebut mencakup peralihan dari PDB seri 2000 ke seri 2010. Pada seri sebelumnya, kalkulasi nilai tambah menggunakan nilai produsen, ialah nilai setelah intervensi pemerintah seperti pajak dan subsidi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, pada seri 2010, pendekatan nan digunakan adalah nilai dasar, nan mencerminkan nilai keekonomian peralatan dan jasa sebelum intervensi pemerintah.
Penyesuaian metode statistik sejak 2010 ini menjadi bagian dari dinamika nan memperlihatkan ketahanan sektor industri pengolahan dalam menopang ekonomi Indonesia.
Selain itu, cakupan pembentukan PDB juga diperluas. Pada periode 2001-2009, PDB nasional hanya dihitung dari sembilan lapangan upaya utama. Namun sejak 2010 hingga 2024, cakupan tersebut meningkat menjadi 21 kategori lapangan upaya (kategori A-U).
Perubahan pengelompokkan ini sempat mempengaruhi kontribusi industri pengolahan, nan tercatat mengalami penurunan pada 2010 akibat peningkatan nilai sektor lain seperti perdagangan, konstruksi, pertambangan, serta jasa finansial dan real estate.
Meski demikian, kontribusi industri pengolahan tetap berada pada level signifikan. Seperti dikutip dari info BPS, pada awal 2000-an kontribusi sektor ini tetap berada di kisaran 28-29 persen, apalagi mencapai sekitar 29,05 persen pada 2001 dan 28,72 persen pada 2002.
Angka tersebut kemudian mengalami tren penurunan berjenjang hingga berada di kisaran 19-20 persen dalam satu dasawarsa terakhir, termasuk sekitar 19,7 persen pada 2019 dan 19,87 persen pada 2020
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tren kembali menunjukkan penguatan, dengan kontribusi industri pengolahan tercatat meningkat dari sekitar 18,34 persen pada 2022 menjadi 18,67 persen pada 2023, lampau naik lagi menjadi 18,98 persen pada 2024 dan mencapai sekitar 19,07 persen pada 2025. Tren kenaikan ini bersambung hingga saat ini seiring kuatnya esensial ekonomi nasional.
Kenaikan tersebut didorong oleh kombinasi pemulihan pascapandemi, efektivitas kebijakan hilirisasi industri, serta penguatan konsumsi domestik. Selain itu, kebijakan hilirisasi dinilai sukses meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri, sementara permintaan domestik nan kuat menjaga stabilitas sektor manufaktur.
Sebagai contoh perbandingan, nomor kontribusi semua sektor ke PDB di tahun 2010 jika menggunakan metodologi seri 2000 hanya sebesar Rp6.446,9 triliun, namun jika menggunakan metodologi seri 2010 kontribusi tercatat Rp6.864,1 triliun di periode nan sama.
Industri pengolahan sendiri tercatat mempunyai kontribusi tertinggi di tahun tersebut ialah sekitar 22-24 persen dari total PDB
Dengan perkembangan ini, Febri Hendri, Staf Khusus Menteri Perindustrian dan juga ahli bicara Kementerian Perindustrian menyebut industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
"Kalau ada ahli ekonomi alias pengamat nan menyebut kontribusi PDB industri pengolahan menurun dengan mengambil info 2001-2005 tidak bisa dibandingkan itu," katanya Rabu (29/4).
Ia justru mengatakan kontribusi industri pengolahan ke ekonomi dalam negeri justru meningkat.
"Hanya periode 2022, 2023, 2024 itu meningkat, setelah covid, dan Pak Menteri (Agus Gumiwang Kartasasmita) memimpin, industrinya meningkat," katanya.
PS ketika menghitung podb, mereka punya konsep defisini lapangan upaya dan metode perhiytungan dan itu berubah drwaktu ke waktu, misalnyua 2009 bps ubah kbli di mana industri pengolahan dipecah jd bbrp sub sektor nan setara industri pengolahan. jd industri pengilaha dipecah jd industri pengolahan sndiri dan kemudian sub sektor misalnya e.
jadi kalkulasi pdb sebelum 2009, itu memaskkuan 3 sektor ekonomi shgga pdb membesar, ketika membesar, maka kontribusi pdb juga membesar. perubahan diubah 2020. oleh lantaran itu kalkulasi tiap peride perubahan tidak bisa dibandingkan.
kontribusi pdb menurun tdk bisa dibandingkan dgn periode tertentu, krn tak apple to apple. hanya periode 2022, 2023, 2024 itu meningkat, setelah covbid, dan pak menteri AGK memimpin dan industrinya meningkat.
jadi klo ada ahli ekonomi alias pengamat katakan kontribusi pdb industri pengolahan menurun, ambil info 2001-2005 gak bisa dibandingkan itu.
(ldy/agt)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·