Jakarta, CNN Indonesia --
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengingatkan suhu panas ekstrem nan melanda sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir dapat berakibat signifikan terhadap keahlian dan umur pakai kendaraan listrik (EV).
Menurut dia suhu lingkungan di atas 35 derajat Celsius dapat mempercepat proses degradasi baterai.
"Reaksi kimia di dalam baterai berjalan lebih sigap pada suhu tinggi, sehingga kapasitasnya lebih sigap menurun," katanya melansir Antara, Rabu (29/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia bilang kapabilitas baterai nan menurun dapat menyebabkan jarak tempuh kendaraan berkurang hingga 10 sampai 30 persen, proses pengisian daya menjadi lebih lambat, serta umur pakai baterai berpotensi lebih pendek sekitar delapan hingga 30 persen.
Kondisi tersebut lantas menuntut perhatian lebih dari pengguna kendaraan listrik dalam melakukan perawatan, terutama di tengah cuaca panas ekstrem.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun langkah paling efektif nan dapat dilakukan antara lain mengaktifkan fitur preconditioning sebelum berkendara, memarkir kendaraan di tempat teduh alias garasi, serta menghindari paparan langsung sinar mentari dalam waktu lama.
Pengguna juga disarankan menjaga tingkat daya baterai (state of charge/SoC) di kisaran 20 hingga 80 persen serta menghindari penggunaan pengisian sigap (fast charging) saat suhu lingkungan sedang tinggi.
Pemeriksaan rutin terhadap sistem pendingin baterai, termasuk cairan pendingin (coolant) dan sensor suhu, juga menjadi perihal krusial untuk menjaga performa optimal.
Cara cas
Terkait kebiasaan pengisian daya, Yannes menekankan pentingnya menghindari pengisian hingga 100 persen setiap hari, terutama dalam kondisi cuaca panas.
Yannes juga mengingatkan agar pengguna tidak melakukan pengisian sigap DC ketika baterai tetap panas setelah digunakan alias saat siang hari dengan suhu panas ekstrem.
"Pengisian daya sebaiknya dilakukan pada malam hari ketika suhu lebih rendah. Jika memungkinkan, gunakan pengisian Level 2 dan batasi fast charging hingga 80 persen saja. Ini krusial untuk mencegah panas tambahan nan dapat mempercepat penuaan baterai," ujarnya.
Lebih lanjut, Yannes bilang sebagian besar kendaraan listrik modern telah dilengkapi sistem manajemen termal (thermal management system/TMS) berbasis pendingin cair (liquid cooling) nan bisa menjaga suhu baterai tetap optimal di kisaran 20 hingga 40 derajat Celsius.
Sistem ini apalagi dapat bekerja pada suhu lingkungan di atas 40 derajat Celsius dengan mengaktifkan pompa dan kipas secara otomatis. Meski demikian, dia menilai sistem tersebut tetap mempunyai batas.
"Pada kondisi ekstrem, TMS tetap mengonsumsi daya tambahan nan bisa mengurangi jarak tempuh sekitar 5 sampai 10 persen. Karena itu, pengguna tetap perlu melakukan langkah perawatan tambahan," ucapnya.
Adapun langkah penyimpanan alias parkir kendaraan, Yannes merekomendasi ditempatkan di area teduh, sejuk, dan kering. Penggunaan pelindung kaca (sunshade) juga disarankan untuk mengurangi radiasi panas langsung.
Jika kendaraan tidak digunakan dalam waktu lama, pengguna dianjurkan mencabut charger dan melakukan preconditioning sebelum kendaraan digunakan kembali.
"Upayakan ada di tempat nan sejuk dan kering, cabut charger jika mobil ditinggal lebih dari satu bulan, dan lakukan preconditioning sebelum dipakai kembali," kata Yannes.
(ryh/fea)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·