CNN Indonesia
Senin, 20 Apr 2026 19:00 WIB
Ilustrasi. Di kalangan Gen Z, zero post jadi tren tersendiri. (REUTERS/Hollie Adams)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah dugaan bahwa generasi muda adalah golongan paling aktif di media sosial, muncul tren baru nan justru bergerak ke arah sebaliknya.
Sebagian generasi Z (Gen Z) sekarang memilih untuk tidak lagi rutin membagikan kehidupan pribadi mereka di platform digital. Fenomena ini dikenal dengan istilah zero post.
Selama ini, Gen Z kerap dicitrakan sebagai generasi nan ekspresif dan terbuka dalam membagikan keseharian. Namun, kebenaran terbaru menunjukkan adanya pergeseran: dari generasi nan doyan mengunggah, menjadi generasi nan lebih selektif, apalagi memilih diam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebuah studi nan diterbitkan oleh The Financial Times mensurvei 250.000 pengguna di 50 negara dan menemukan bahwa penggunaan media sosial dunia menurun hingga 10 persen. Penurunan paling signifikan berasal dari kalangan anak muda.
Meski demikian, penurunan ini tidak berfaedah mereka sepenuhnya meninggalkan media sosial, melainkan mengubah langkah penggunaannya.
Fenomena ini juga diperkuat oleh konsep nan diungkapkan Kyle Chayka dari The New Yorker. Ia menggambarkan kondisi ketika pengguna biasa, bukan pembuat konten, mulai berakhir membagikan aktivitas sehari-hari lantaran capek dengan kebisingan, tekanan, dan eksposur berlebihan di media sosial.
Dalam konsep zero post, media sosial tidak lagi dipenuhi momen spontan, melainkan konten nan semakin terkurasi, komersial, dan kerap terasa jauh dari kehidupan nyata.
Dana (23) mengaku dulu cukup aktif membagikan kesehariannya di media sosial, mulai dari foto makanan hingga aktivitas berbareng teman. Namun, kebiasaan itu perlahan berubah.
"Aku merasa setiap posting kudu dipikirkan matang. Harus bagus, estetik, dan terlihat hidupku baik-baik saja. Lama-lama capek sendiri," katanya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (16/4).
Menurut Dana, tekanan untuk tampil sempurna membikin media sosial terasa seperti panggung, bukan lagi ruang berbagi nan nyaman.
Berbeda dengan Dana, Fia (22) mengaku sekarang lebih berhati-hati lantaran jejak digital dapat berakibat pada masa depan, termasuk karier.
"Sekarang banyak perusahaan nan mengecek media sosial. Jadi, jujur saja saya mau menjaga gambaran diri. Takut jika posting sesuatu nan disalahartikan," ujarnya.
Ia menilai, membatasi unggahan justru membuatnya lebih tenang lantaran tidak perlu terus-menerus memikirkan persepsi orang lain di bumi digital.
Hal serupa dirasakan Salsa (22). Ia menilai media sosial saat ini sudah dipenuhi standar nan tidak realistis.
"Kadang capek memandang orang-orang nan terlihat hidupnya 'sempurna'. Jadi malah bikin overthinking. Akhirnya saya memilih tidak terlalu aktif posting, agar tidak terbawa suasana," ujarnya saat diwawancarai CNNIndonesia.com, Rabu (15/4).
Menurut Salsa, menjadi pengguna pasif justru membikin pengalaman bermedia sosial terasa lebih ringan. Sementara itu, Sela (21) mengaku argumen utamanya adalah kelelahan emosional.
"Rasanya seperti kudu selalu update, selalu ada. Padahal saya mau hidup lebih santai. Jadi sekarang lebih sering jadi penonton daripada nan posting," ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bagi sebagian Gen Z, tidak memposting bukan berfaedah tidak eksis. Justru, perihal tersebut menjadi langkah untuk mengatur pemisah antara kehidupan pribadi dan ruang publik nan semakin kabur.
Tren zero post juga menandai perubahan kegunaan media sosial. Jika sebelumnya menjadi ruang berbagi momen pribadi secara spontan, sekarang platform digital lebih banyak diisi konten promosi hingga produksi kreator.
Dalam situasi ini, pengguna biasa perlahan kehilangan ruangnya. Pergeseran ini memperlihatkan bahwa Gen Z tidak betul-betul meninggalkan media sosial, melainkan sedang mendefinisikan ulang langkah mereka menggunakannya.
(nga/tis)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·