Makassar, CNN Indonesia --
Penyidik Polda Sulawesi Selatan mengungkap motif Bripda P menganiaya Bripda DP (19) di barak Samapta hingga korban meninggal bumi saat menjalani perawatan medis di rumah sakit.
Tindak kekerasan nan dilakukan tersangka, Bripda P terhadap juniornya, Bripda DP didasari proses pembinaan kepada Bintara baru.
"Hasil pemeriksaan sampai dengan sekarang lantaran argumen pembinaan senior-junior," kata Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Didik Supranoto, Selasa (24/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Didik belum dapat menerangkan lebih jauh kronologi kasus penganiayaan terhadap Bripda DP hingga tewas saat menjalani perawatan medis.
Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro menuturkan laporan awal sebelumnya menyatakan bahwa dugaan penyebab kematian Bripda DP (19) akibat membenturkan kepalanya sendiri.
"Laporan awal nan kami terima nan berkepentingan meninggal, membentur-benturkan kepala. Itu pertama kami mendengar laporan," kata Djuhandhani di Polres Pinrang, Senin (23/2).
Korban sempat dibawa ke rumah sakit oleh sejumlah rekannya, setelah mengalami tindakan kekerasan dari seniornya di barak Samapta Polda Sulsel. Namun, nyawa korban tidak dapat tertolong.
"(Korban dibawa ke rumah sakit) tetap dalam keadaan sadar," jelasnya.
Penyidik campuran Propam dan Ditreskrimum belakangan menetapkan satu senior korban, Bripda P sebagai tersangka mengenai dugaan penganiayaan, Bripda DP di area barak Samapta.
"Kita juga tetap melakukan pemeriksaan terhadap 5 personil ini, ada kawan satu angkatan korban, dia tidak melaporkan dan berupaya mengaburkan," ungkapnya.
(mir/gil)
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·