CNN Indonesia
Kamis, 26 Feb 2026 06:15 WIB
Ilustrasi. Seorang wanita asal Jakarta Selatan mengalami jerawat parah setelah 10 tahun rutin menggunakan krim nan mengandung steroid. (iStockphoto/Boyloso)
Jakarta, CNN Indonesia --
Wajah mulus dan bebas jerawat sering jadi kemauan banyak orang. Tak sedikit nan rela mencoba beragam langkah demi tampil lebih percaya diri, termasuk menggunakan krim racikan dari klinik kecantikan.
Namun, kisah Desty (34), seorang wanita asal Jakarta Selatan, menjadi pengingat bahwa perawatan instan bisa berujung panjang dan menyakitkan.
Sama seperti remaja kebanyakan, Desty mengaku mau mempunyai kulit 'glowing' dan bebas jerawat. Saat tetap kuliah S1 pada 2011, dia mengalami jerawat nan menurutnya tetap tergolong jerawat remaja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu waktu kuliah S1 tahun 2011 memang muka berjerawat. Tapi jerawatnya kayak jerawat ABG gitu," kata Desty, mengutip Detik.
Merasa tak percaya diri, dia memutuskan berkonsultasi ke salah satu klinik kecantikan ternama di Malang. Dari sana, master meresepkan antibiotik dan krim racikan nan dikenal dengan istilah 'etiket biru'.
"Awalnya master meresepkan antibiotik. Resep itu dikasih dua, satu ke apotekernya, satu lagi ke saya," ujarnya.
Masalah mulai muncul ketika dia kembali ke Bogor dan krim tersebut habis. Jerawatnya justru kembali lebih banyak dari sebelumnya.
Terjebak krim steroid
Alih-alih berhenti, Desty justru kembali membeli krim etiket biru tersebut tanpa konsultasi ulang secara rutin. Harganya nan terjangkau membuatnya merasa penggunaan jangka panjang bukan masalah.
"Dibeli, dipakai, dan murah. Sebotol mini itu nggak sampai Rp50 ribu. Jadi sebulan segitu ya lezat lah. Dan itu kejadian terus-menerus," katanya.
Tanpa betul-betul memahami kandungannya, Desty menggunakan krim tersebut selama nyaris 10 tahun, sejak 2013 hingga 2023. Padahal, dia sempat diingatkan bahwa krim tersebut mengandung steroid.
Ia mengaku dilema. Setiap kali pemakaian dihentikan, wajahnya memburuk. Namun saat digunakan, kulitnya tampak membaik.
"Kalau diberhentiin muka saya hancur, dipakai bagus tapi nambah ancaman juga. Tapi saya kerja ketemu orang, nggak mungkin ketemu orang dengan wajah seperti itu. Jadi saya lanjutkan sampai 10 tahun," tuturnya.
Wajah 'hancur' setelah berhenti
Tahun 2023 menjadi titik balik. Desty akhirnya memutuskan berakhir dan berkonsultasi kembali ke dokter. Namun, penghentian krim membikin kulitnya bereaksi hebat.
Dalam waktu sekitar dua minggu setelah antibiotik dan obat antiradang habis, wajahnya mengalami breakout parah. Skin barrier menipis, kemerahan muncul, dan jerawat meradang di nyaris seluruh wajah.
"Kalau lihat di TikTok dan IG saya, memang hancur banget mukanya," katanya.
Ia sempat mengetahui bahwa penggunaan steroid semestinya dihentikan secara berjenjang alias tapering off. Namun, master saat itu tidak menyarankan metode tersebut.
"Katanya steroid itu harusnya tapering off, dosisnya dikurangi pelan-pelan. Tapi master tidak menyarankan saya seperti itu. Jadi langsung berakhir dan lanjut obat minum," ujarnya.
Selain perawatan kulit, master juga menyarankan Desty menurunkan berat badan. Saat itu, berat badannya mencapai 92 kilogram dan tergolong obesitas.
Lemak berlebih disebut dapat memicu peradangan nan memperparah kondisi kulit.
Kondisi mulai membaik
Kini, di tahun 2026, kondisi kulit Desty perlahan membaik. Kemerahan dan jerawat mulai mereda, meski kulitnya menjadi lebih sensitif dibanding sebelumnya.
"Kayaknya jika debu, polusi, panas itu mudah banget nge-trigger jerawat kambuh lagi," katanya.
Dari pengalaman panjangnya, Desty berpesan agar masyarakat tidak sembarangan menggunakan krim etiket biru dalam jangka panjang tanpa pengawasan dokter.
"Jangan pakai krim etiket biru lama-lama tanpa konsultasi rutin. Kita nggak pernah betul-betul tahu apa nan terkandung di dalamnya," tutupnya.
(tis/tis)
[Gambas:Video CNN]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·