CNN Indonesia
Rabu, 29 Apr 2026 07:45 WIB
Ilustrasi wanita tersenyum. Sebagian orang menganggap kondisi sehat mental hanya soal merasa bahagia. (iStock/Prostock-Studio)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah maraknya tren healing dan self-love, banyak orang tetap terjebak dalam persepsi keliru mengenai makna "sehat mental".
Sebagian besar menganggap kondisi ini hanya soal merasa bahagia, namun riset terbaru menunjukkan dimensi nan jauh lebih luas.
Penelitian dari University of Adelaide nan diterbitkan dalam jurnal Nature Mental Health merumuskan arti baru nan lebih komprehensif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan survei terhadap 122 master lintas disiplin, kesehatan mental nan positif rupanya merupakan perpaduan antara aspek emosional, psikologis, dan sosial.
Para peneliti mengidentifikasi enam aspek krusial nan menandakan seseorang mempunyai kondisi mental nan sehat, di antaranya,
1. Memiliki Makna Hidup: Memahami tujuan dan argumen di kembali keberadaan diri.
2. Kepuasan Hidup: Merasa cukup dan puas dengan perjalanan hidup nan dijalani.
3. Penerimaan Diri: Mampu menerima kelebihan serta kekurangan diri secara objektif.
4. Kualitas Hubungan Sosial: Menjalin hubungan nan sehat dan suportif dengan orang lain.
5. Otonomi Diri: Merasa mempunyai kendali dan kuasa atas keputusan-keputusan hidup.
6. Kesejahteraan Emosional: Merasakan kebahagiaan dalam porsi nan wajar.
Peneliti Matthew Iasiello menegaskan bahwa kesehatan mental tidak bisa disederhanakan menjadi satu jenis emosi saja.
"Kesehatan mental nan positif adalah kombinasi dari langkah kita merasa, berfaedah secara psikologis, dan gimana kita terhubung dengan lingkungan sekitar," jelasnya, dikutip dari laman resmi University of Adelaide.
Salah satu temuan menarik dalam studi ini adalah seseorang tetap bisa dikategorikan sehat mental meski tidak selalu merasa "baik-baik saja". Sehat mental bukanlah kondisi tanpa beban, melainkan kapabilitas untuk tetap berfaedah dan menemukan makna meski sedang menghadapi tantangan berat.
Matthew menambahkan bahwa mempunyai kriteria tersebut bukan berfaedah seseorang otomatis bebas dari gangguan mental. Fokus utamanya adalah gimana perseorangan bisa menjalani hidup nan berarti di tengah segala situasi.
Selain itu, aspek luar seperti tingkat pendapatan, kondisi fisik, maupun letak tempat tinggal diklasifikasikan sebagai aspek pendukung (memengaruhi), tapi bukan bagian dari arti kesehatan mental itu sendiri.
Selama ini, perbedaan arti membikin otoritas maupun lembaga pendidikan kesulitan mengukur tingkat kesehatan mental masyarakat secara efektif. Dan Fassnacht dari University of the Sunshine Coast menyebut kejelasan arti adalah langkah awal nan fundamental.
"Anda tidak bisa membangun alias memperbaiki sesuatu nan tidak bisa didefinisikan secara konkret," ungkap Fassnacht.
Dengan adanya standar ini, pemerintah dan lembaga mengenai diharapkan dapat menciptakan lingkungan nan lebih suportif. Peneliti Joep van Agteren juga mengingatkan bahwa langkah sederhana, seperti membangun hubungan sosial nan positif, sudah berkontribusi besar terhadap ketahanan mental seseorang.
Laporan berjudul "A Delphi consensus study on the dimensions of positive mental health" ini telah resmi dipublikasikan pada 10 April 2026.
(wiw)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·