Jakarta, CNN Indonesia --
Banyaknya pesantren-pesantren di wilayah Jawa, Kalimantan, dan Sumatra memang tidak terlepas dari peran seseorang nan dijuluki Bapak Pesantren Indonesia, Syaikhona Kholil Bangkalan (1835-1925).
Negara kemudian mengakuinya sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2025.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Syaikhona Kholil lahir di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur pada bulan Safar 1252 Hijriah alias 1835 Masehi dari pasangan KH Abdul Latif-Nyai Siti Khadijah.
Mengutip dari NU Online, Syaikhona mempunyai lima jalur keturunan nan tersambung ke Nabi Muhammad ialah Jalur Sunan Kudus (Sayyid Ja'far Shodiq), Jalur Sunan Ampel (Raden Rahmad), Jalur Sunan Giri (Sayyid Muhammad Ainul Yaqin), Jalur Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), dan Jalur Basya'iban.
Di kalangan Nahdliyin dikenal tiga serangkai ustad nan berjuang mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) ialah KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri. Namun, embrio NU itu tak lepas dari inspirasi Syaikhona Kholil sebagai pembimbing mereka.
Pendidikan hingga mendirikan pesantren
Syahdan, kala tetap bocah, kepintaran Syaikhona Kholil sudah di atas anak-anak sebayanya.
Dalam usia muda, dia sudah bisa menghafal seribu bait nadzam Alfiyah Ibnu Malik sekaligus menguasai pengetahuan nahwu, sharaf, dan fikih dengan sangat cepat. Kemudian saat beranjak remaja, KH Abdul Latif mengirim putranya ke beragam pesantren ternama di Madura dan Jawa untuk memperdalam keilmuan.
Kemudian pada 1859 dia menjalani kesempatan ke Tanah Suci, Mekkah. Selain untuk beragama haji, dia bermukim di sana untuk memperdalam pengetahuan agama.
Di Mekah, Syaikhona Kholil banyak mempelajari pengetahuan dari beberapa syaikh tentang pengetahuan dhohir (esoteris) seperti tafsir, hadits, fiqih, dan pengetahuan nahwu.
Tidak hanya itu, dia juga mempelajari pengetahuan jiwa (isoteris) ke beragam pembimbing spiritual. Salah satu pembimbing spiritual Syaikhona adalah Syaikh Ahmad Khatib Sambas Ibnu Abdul Ghofar al-Jawi nan merupakan pendiri dan penganut tarekat Qodariyah wa Naqsabandiyah.
Pada 1863, ketika kembali ke nusantara, Syaikhona Kholil mendirikan pesantren di kampung halamannya ialah di Jengkebuan, Bangkalan. Setelah pesantren tersebut berkembang, Syaikhona menyerahkan itu untuk diurus menantunya, KH Muntaha. Dia lampau pindah ke Demangan, dan membangun pesantren di sana.
NU dan perjuangan bangsa
Unsur nasionalisme Syaikhona dipandang dari para santri binaannya nan nyaris seluruhnya menjadi pejuang pergerakan Islam Nusantara dan penguatan nasionalisme abad 1800-an.
Jaringan Islam terutama para santrinya menjadi pemantik utama dalam membangkitkan kesadaran politik untuk melahirkan aktivitas kultural melawan kolonialisme saat itu.
Syaikhona Kholil dijuluki Syaikh al-Jawiyyin, mahaguru orang-orang Jawa. Terkait NU, meskipun organisasi itu lahir setelah dirinya wafat, perannya sangat vital untuk mengarahkan fondasi pemikiran pendiri NU.
Mengutip dari NU Online, sekitar 1920, "Sebanyak 66 ustadz se-Nusantara berkumpul di Bangkalan untuk meminta petunjuk kepada Syaikhona Kholil mengenai kemunculan aliran baru nan dianggap menakut-nakuti aliran Ahlussunnah wal Jamaah. Pandangan, sikap, dan restu Syaikhona Kholil inilah nan kemudian menjadi kekuatan lahirnya organisasi NU sebagai tembok aliran Islam moderat unik Nusantara."
Mengutip dari Majalah Risalah NU jenis 116, dalam riwayat nan diceritakan salah satu santrinya nan juga dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional, KHR As'ad Syamsul Arifin dirinya dipanggil Syaikhona Kholil untuk memberi seutas tasbih kepada KH Hasyim Asy'ari.
Pesan Syaikhona kepada As'ad, sepanjang perjalanan dari Bangkalan ke Tebuireng, Jombang agar mengamalkan wirid Ya Jabbar, Ya Qahhar.
Setibanya di Jombang, As'ad memberikan tasbih itu kepada Hasyim. Kakek dari Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu kemudian memaknainya sebagai restu dari pembimbing kepadanya dan para sahabatnya untuk mendirikan NU.
Lukisan dan syarat pahlawan nasional
Syaikhona Kholil meninggal pada tahun 1925. Walaupun telah hidup di masa fotografi cetak, Syaikhona Kholil tak meninggalkan satu pun foto mengenai dirinya. Ketika teknologi internet makin pesat, diiringi perkembangan media sosial, beredar foto-foto nan diklaim sebagai sosok Syaikhona Kholil.
Akhirnya, pada 2025 silam para pemangku kepentingan difasilitasi Pemprov Jatim menetapkan sketsa hitam putih wajah Syaikhona Kholil. Sketsa itu kemudian digunakan sebagai rujukan resmi kala itu untuk mengusulkan Syaikhona sebagai pahlawan nasional.
Ketika Syaikhona diajukan menjadi pahlawan nasional, salah satu syarat nan kudu dipenuhi adalah tersedianya foto alias minimal lukisan nan bisa mewakili, sehingga Pemprov Jatim dan berembuk terkait persoalan tersebut.
Sketsa itu dilukis sesepuh Lesbumi Ki Nonot Sukrasmono berdasarkan kesaksian keturunan Syaikhona Kholil.
Mengutip dari NU Online Jatim, KH Makki menjelaskan sebetulnya ada foto dari Mbah Kholil yakni pada arsip perjalanan haji. Namun, sambungnya, paspor Mbah Kholil yang terdapat fotonya tak ditemukan pihak keluarga. Kemudian, ada pula nan menyebut fotonya ada pada arsip imigrasi nan tersimpan di Belanda, namun pihak family tak dapat mengonfirmasi perihal itu dengan pembandingnya.
"Pendataan paspor itu fotonya ada dua, satu di paspornya dan satu di imigrasi. Tapi hingga saat ini paspornya tidak ditemukan. Ada nan menyodorkan foto paspor Syaikhona Kholil, tapi ketika ditanya paspornya mana, tidak ada nan bisa menjawab. Karena kurang bukti autentik, kami tidak berani menerimanya," jelasnya.
Adapun sketsa Syaikhona Kholil dianggap sebagai jalan tengah, tapi dengan syarat tertentu. Dia mengatakan sketsa itu sengaja dibuat jenis hitam putih untuk menjaga keautentikan dan menghindari interpretasi berlebihan. Dia mengaku pihak family tak berani memberi warna kulit alias perincian lain pada sketsa itu demi menjaga etika terhadap sosok Syaikhona Kholil.
Tulisan ini adalah rangkaian dari kisah ulama, tokoh, dan cerdas pandai muslim nan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia nan diterbitkan CNNIndonesia.com pada Ramadan 1447 Hijriah
(fam/kid)
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·